Polisi Sita Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar di Sentul

Share

Aparat kepolisian menggeledah sebuah rumah di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat. Tindakan ini dilakukan terkait dengan penyidikan tiga kasus dugaan korupsi besar yang melibatkan PLN, ASABRI, dan Krakatau Steel.

Seperti diberitakan oleh Detikcom, dari lokasi tersebut petugas mengangkut tujuh koper serta tas besar yang berisi barang bukti berupa uang tunai dan emas batangan. Seluruh barang bukti dievakuasi menggunakan kendaraan taktis (rantis) dengan pengawalan ketat.

Petugas Brimob bersenjata lengkap menjaga proses pemindahan koper dan tas besar tersebut ke dalam rantis sekitar pukul 05.00 WIB. Setiap wadah memiliki label tertulis yang merinci jenis barang bukti di dalamnya.

Salah satu koper kedapatan memiliki catatan bertuliskan 'Koper 2. 25 Batang Emas 1 KG'. Sementara pada tas besar berwarna hitam dengan lis merah tertera tulisan 'KOPER 3' yang merinci keberadaan ribuan lembar mata uang asing.

Catatan pada wadah tersebut menunjukkan berisi 26.700 dua puluh enam ribu tujuh ratus lembar pecahan USD 100. Selain itu, terdapat pula 2.400 (Dua Ribu Empat Ratus) lembar pecahan SGD 1000 dan 16 (enam belas) lembar pecahan SGD 100.

Di samping uang dan logam mulia, penyidik membawa tiga buah foto berbingkai besar menggunakan bus anggota Brimob. Petugas di lapangan juga mengoperasikan mesin penghitung untuk memastikan jumlah uang yang ditemukan di tempat kejadian perkara.

Akumulasi berat emas batangan yang disita dari kediaman di Sentul tersebut mencapai 74 kilogram. Nilai seluruh uang tunai dalam bentuk rupiah, dolar AS, dan dolar Singapura awalnya ditaksir berada pada kisaran Rp 282,4 miar.

Kakortas Tipidkor Polri, Irjen Totok Suharyanto menjelaskan bahwa komoditas berharga tersebut disimpan di dalam brankas yang terkunci sebelum akhirnya dibuka oleh petugas. Total nilai taksiran barang bukti melonjak setelah penghitungan menyeluruh.

"Ditemukan brangkas terkunci, setelah dibuka berisi tujuh koper. Yang pertama 74 kg emas batangan, kemudian 4.767.300 USD. Kemudian 14.083.800 SGD, kemudian 100 million rupiah. Estimasi total dalam rupiah senilai Rp 476 miliar," kata Totok di Perumahan Bogor Golf Hijau, Kamis (9/7/2026) dini hari.

Langkah hukum yang diambil oleh Korps Bhayangkara ini merupakan bagian dari kebijakan tegas pemerintah pusat. Perkara yang membelit tiga institusi tersebut mendapatkan perhatian khusus dari kepala negara.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menegaskan pengusutan kasus dugaan korupsi di PLN, ASABRI, dan Krakatau Steel menjadi atensi Presiden Prabowo Subianto.

"Ini merupakan atensi Bapak Presiden untuk dugaan-dugaan kasus korupsi menjadi perhatian kepolisian untuk melaksanakan pengungkapan dan proses penyidikan. Rangkaian penggeledahan ini bagian dari proses penyidikan di dalam mencari, mengumpulkan barang bukti untuk pemenuhan dalam proses penyidikan," kata Budi Hermanto seusai penggeledahan di Cafe de'Clan, Cipete, Jakarta Selatan, Rabu (8/7).

Budi menerangkan bahwa operasi ini berkaitan dengan penanganan perkara suap, gratifikasi, serta tindak pidana pencucian uang (TPPU). Salah satu fokusnya adalah dugaan korupsi batu bara PLN yang sempat mengakibatkan gangguan listrik atau blackout di wilayah Sumatera.

"Dari Kortas Tipikor bersama Polda Metro Jaya dalam melakukan penyidikan dugaan kasus korupsi meliputi suap, gratifikasi, dan pencucian uang. Ada beberapa lokasi saat ini secara serempak dilaksanakan rangkaian penggeledahan, termasuk di lokasi sekarang di Cafe de'Clan dan Coin Money Changer. Ini kaitan tentang dugaan korupsi blackout batu bara PLN, ASABRI, dan Krakatau Steel," ujarnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author