Polisi Malaysia Periksa Kopilot Pembawa Narkoba di Jakarta
Empat penyidik dari Departemen Investigasi Kejahatan Narkotika Bukit Aman Malaysia memeriksa kopilot Malaysia Airlines Mohd Saufi bin Othman di Jakarta pada Rabu, 12 Agustus 2026. Pemeriksaan dilakukan untuk mengusut jaringan penyelundupan narkoba internasional yang melibatkan tersangka, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Saufi sebelumnya ditangkap oleh otoritas Bea Cukai di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 28 Juli. Polisi menyita barang bukti berupa 26 kilogram ekstasi dari tangan tersangka sebelum menyerahkannya ke Bareskrim Polri.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan tersangka positif mengonsumsi tiga jenis narkoba. Tersangka juga mengaku telah tiga kali menyelundupkan barang haram ke Indonesia dengan imbalan 50.000 ringgit atau sekitar Rp 218,7 juta.
Direktur NCID Bukit Aman Hussein Omar Khan menyatakan pihak kepolisian Malaysia berupaya mencocokkan data keterangan tersangka dengan temuan penyidik di Kuala Lumpur.
"Kami telah diberikan akses untuk menemui warga Malaysia tersebut pada tanggal 12 dan 13 Agustus… untuk memeriksanya guna mendapatkan informasi lebih lanjut serta membandingkan data yang telah kami kumpulkan di sini terkait sindikat tersebut dan hal-hal lainnya," kata Hussein Omar Khan, Direktur NCID Bukit Aman.
Upaya pengungkapan jaringan ini memerlukan ketelitian ekstra mengingat para pelaku sengaja menyamarkan jejak komunikasi mereka.
"Kami ingin memverifikasi beberapa hal lain yang berkaitan dengan kasus ini agar kami bisa mendapatkan informasi yang lebih rinci dan akurat darinya," kata Hussein Omar Khan.
Ia menambahkan bahwa identitas palsu menjadi kendala utama aparat dalam melacak keberadaan para anggota sindikat.
"Prosesnya tidak sesederhana sekadar mendapatkan nomor telepon, melacak pemiliknya, lalu segera menangkap mereka," kata Hussein Omar Khan.
Penggunaan nomor identitas yang tidak valid membuat proses penelusuran hukum membutuhkan waktu lebih lama.
"Mereka menggunakan nomor identitas palsu untuk mendaftarkan nomor telepon. Ketika identitas yang digunakan palsu atau tidak akurat, melacak individu tersebut menjadi sulit," kata Hussein Omar Khan.