Polisi Malaysia Bongkar Sindikat Penipuan di Forest City
Kepolisian Malaysia membongkar dua operasi sindikat penipuan investasi dan cinta berbasis mata uang kripto yang memanfaatkan puluhan apartemen serta bungalow kosong di megaproyek Forest City, Johor, pertengahan Juli 2026.
Dalam penggerebekan di 32 lokasi tersebut, aparat meringkus 335 orang dan menyita aset senilai sekitar satu juta ringgit atau setara Rp3,9 miliar. Barang bukti yang diamankan meliputi 313 komputer, 1.557 ponsel, 17 laptop, dan 10 modem. Para tersangka terdiri dari 309 warga negara China, 19 warga Indonesia, tiga warga Malaysia, dan empat warga Myanmar.
Kepala Polisi Johor Ab Rahaman Arsad menyatakan pihak berwenang terus berkoordinasi dengan Interpol untuk memburu dalang utama di balik jaringan lintas negara ini. Penindakan ini menunjukkan bagaimana kompleks properti senilai 100 miliar dolar AS yang minim penghuni tersebut telah dimanfaatkan oleh jaringan kejahatan internasional.
Analis kejahatan berfasilitas kripto di TRM Labs, John Wojcik, menilai penggerebekan ini mengungkap fenomena industri penipuan global yang kian terstruktur dan profesional.
"Kenyataannya adalah bahwa banyak dari organisasi-organisasi ini sekarang lebih menyerupai perusahaan multinasional daripada jaringan kejahatan terorganisir atau geng tradisional," kata Wojcik.
Wojcik menjelaskan bahwa sindikat memanfaatkan infrastruktur modern dan privasi di kawasan terpencil untuk menyembunyikan aktivitas ilegal mereka dari jangkauan hukum.
"Forest City mencerminkan kondisi yang telah ditargetkan oleh kejahatan terorganisir selama bertahun-tahun – sebuah lokasi unggulan yang dipasarkan sebagai kota pintar mewah yang tak pernah mendekati visi tersebut," ujar Wojcik.
Seorang penghuni yang juga bekerja di bagian penjualan properti Forest City, Kevin, mengonfirmasi bahwa para pelaku memilih lokasi tersebut karena suasana yang sangat sepi dan terisolasi.
"Kami tahu apa yang sedang mereka lakukan," kata Kevin.
Kevin menambahkan bahwa angka penghuni yang disampaikan pengembang jauh melampaui fakta di lapangan, sehingga memberikan ruang gerak bebas bagi para pelaku kejahatan.
"Ketika kami berbicara dengan klien atau pelanggan, perusahaan mengajari kami untuk mengatakan 'kami sudah memiliki 23.000 penduduk yang tinggal di daerah ini'," kata Kevin.
Namun, Kevin membeberkan bahwa populasi riil di kompleks hunian tersebut sangat jauh dari klaim resmi pengembang.
"Mereka punya privasi sendiri… Tidak ada yang datang ke sini," ucapnya.
Di sisi lain, pembeli awal di Forest City, Jason Deng, mengaku kecewa berat dengan perkembangan kawasan yang awalnya dijanjikan sebagai kota megah tersebut.
"Pada tahun 2016 mereka mendeskripsikannya di sini seperti kota emas; sangat, sangat indah," kata Deng.
Deng yang telah menginvestasikan dana besar untuk membeli lima unit apartemen kini menyesali keputusannya setelah melihat kondisi proyek yang terbengkalai.
"Jika saya tahu itu tidak begitu baik, saya tidak akan membeli begitu banyak apartemen," kata Deng.
Pengembangan proyek hasil kerja sama Country Garden dan Esplanade Danga 88 ini melambat akibat krisis sektor properti China, pembatasan modal luar negeri, serta dampak pandemi. Dari target awal 700.000 jiwa, kawasan pulau buatan seluas 1.400 hektare ini diperkirakan hanya dihuni oleh kurang dari 9.000 orang.
Pemerintah Malaysia di bawah Perdana Menteri Anwar Ibrahim kini berupaya menghidupkan kembali kawasan tersebut melalui pembentukan Zona Keuangan Khusus dan status pulau bebas bea guna menarik kembali investasi asing.