Polisi Buru Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Wanita di Bandung

Share

Kepolisian Daerah Jawa Barat memburu Taufik Hidayat (30) yang masuk daftar pencarian orang akibat menyekap dan menganiaya kekasihnya, YTR (29), selama tiga tahun di sebuah kamar kos wilayah Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Aparat kepolisian terus melacak keberadaan tersangka yang diduga melarikan diri ke wilayah Garut, Jawa Barat, setelah korban berhasil dievakuasi dalam kondisi mengalami luka berat fisik dan psikologis.

Direktur PPA dan PPO Polda Jabar Kombes Rumi Untari menjelaskan perkembangan penanganan kasus kekerasan domestik tersebut melalui pesan singkat pada Senin (22/6).

"Masih proses (pengejaran)," kata Kombes Rumi Untari, Direktur PPA dan PPO Polda Jabar.

Penyelidikan kepolisian mengungkap bahwa tersangka kerap berpindah-pindah lokasi indekos untuk menyembunyikan korban dari endusan masyarakat dan keluarga korban selama masa penyekapan.

Istri penjaga kos di Desa Cinunuk, Mulyati, memberikan kesaksian mengenai perilaku harian tersangka yang dikenal tertutup dan temperamental saat menyewa kamar di wilayah tersebut.

"Pelaku suka ke luar kosan untuk beli nasi atau keluar sebentar juga selalu dikunci. Takut ada orang atau feeling siapa-siapa masuk ke kosan," ujar Mulyati, Istri penjaga kosan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dilansir detikJabar pada Selasa (23/6/2026), tersangka mengaku bekerja sebagai petugas penagih utang atau debt collector dan mengklaim berasal dari Nagreg.

"Iya, kerjanya debt collector. Terus ngakunya orang Nagreg. Istrinya katanya nggak diperdulikan keluarga," beber Mulyati, Istri penjaga kosan.

Mulyati menambahkan bahwa tersangka sering dalam kondisi mabuk dan kerap menunjukkan gelagat agresif yang meresahkan penghuni kos lainnya.

"Suka temperamen, tiba-tiba ngajak berantem. Om buka pintu mau keluar. Resa mau tidur kaget. Tiap habis mabuk minta dianter ambil uang atau bakso tahu dan lain-lain," jelas Mulyati, Istri penjaga kosan.

Dampak penganiayaan panjang tersebut membuat YTR menderita kerusakan penglihatan, bibir sumbing, gangguan bicara, serta kelumpuhan fisik yang membutuhkan penanganan medis tingkat lanjut.

Adik korban, Syahrul Ulum, membeberkan detail kekerasan yang dialami kakaknya setelah korban mulai sadar dan bisa berkomunikasi secara terbatas di rumah sakit.

"Cerita lewat bapak, dia sering dipukul pakai helm, dibacok, ada bekas sundutan rokok juga. Semua luka itu bukti penyiksaan bertahun-tahun," tutur Syahrul Ulum, Adik korban.

Merespons kekejaman tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan negara akan mengambil alih seluruh biaya pemulihan medis korban di RS Hasan Sadikin Bandung.

"Yang bersangkutan sekarang sudah dirawat di rumah sakit Kementerian Kesehatan di Bandung, RS Hasan Sadikin (RSHS). Kami akan merawat sampai rekonstruksi," ujarnya Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan kepada wartawan di Lemdiklat Polri, Jakarta Selatan, Selasa (22/6).

Kementerian Kesehatan kini memimpin operasi pemulihan fisik terintegrasi, termasuk operasi rekonstruksi wajah, sementara aspek sosial dan ekonomi dikelola secara kolaboratif bersama instansi lain.

"Untuk masalah ekonominya itu ditangani oleh pemerintah daerah, untuk masalah sosialnya itu ditangani oleh Kementerian PPA dan kita bertiga sudah berkoordinasi," jelas Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.

Menkes menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden kemanusiaan ini dan menegaskan komitmen institusinya untuk memberikan perawatan terbaik hingga korban pulih sepenuhnya.

"Jadi terima kasih juga atas masukannya dan kita berjanji akan merawat sebaik mungkin yang bersangkutan di Rumah Sakit Hasan Sadikin," pungkas Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author