Petani Jepang Ubah Jam Kerja ke Dini Hari Akibat Gelombang Panas
Sektor pertanian Jepang kini menghadapi ancaman suhu panas ekstrem yang memaksa para petani menggeser waktu kerja mereka ke malam hingga dini hari demi keselamatan jiwa serta kelangsungan usaha tani mereka, dilansir dari Detik iNET.
Langkah adaptasi ini diambil guna melindungi diri dari risiko serangan sengatan panas atau heatstroke. Salah satu pelaku usaha yang menerapkan perubahan jadwal kerja ekstrem ini adalah Motoaki Iijima, seorang petani bunga asal Nikko, Prefektur Tochigi.
Ia memutuskan memindahkan seluruh aktivitas pemanenan ke malam hari setelah salah seorang pekerjanya pingsan akibat heatstroke di dalam rumah kaca yang suhunya bisa menembus melebihi 40 derajat Celsius saat siang hari.
"Jam-jam sekitar senja benar-benar sangat berharga. Saat itulah kami bisa berada di luar. Kami perlahan menjadi nokturnal. Ini soal melindungi tubuh kami dan pada akhirnya, nyawa kami," kata Iijima.
Kondisi iklim saat ini memberikan dampak yang sangat riskan bagi tenaga kerja pertanian di Jepang, mengingat sekitar 70 persen di antaranya merupakan lansia berusia 65 tahun ke atas. Kelembapan udara yang tinggi turut memperburuk keadaaan karena menghambat proses penguapan keringat untuk menurunkan suhu tubuh.
Berdasarkan data resmi pada 2024, tercatat sebanyak 59 pekerja sektor pertanian di Jepang meninggal dunia akibat terpapar panas ekstrem, meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding tahun 2021. Hasil survei Japan Weather Association juga mengungkapkan hampir 60 persen petani pernah mengalami serangan panas secara langsung atau mengenal korbannya.
Tekanan dari cuaca panas ini pun memicu pembatasan durasi kerja secara signifikan di area lahan outdoor.
"Kami harus berpacu dengan waktu," kata Asada.
Miyoko Asada, seorang pekerja pertanian berusia 68 tahun, kini rutin memulai aktivitas pemanenan bunga sesaat setelah Matahari terbit sebelum suhu lingkungan melampaui ambang batas aman manusia.
Dampak gelombang panas tidak hanya dirasakan pada sektor budi daya tanaman, tetapi juga mengancam industri peternakan. Tetsuya Usuba, seorang peternak ayam petelur, pernah kehilangan lebih dari 500 ekor ayam dalam waktu tiga hari akibat lonjakan suhu lingkungan.
Untuk mencegah kejadian serupa, Usuba menyalakan lampu otomatis di kandangnya mulai pukul 02.30 waktu setempat agar 4.400 ekor ayamnya bisa terjaga dan makan sebelum suhu siang menurunkan nafsu makan ternak. Meski telah memposisikan kipas tambahan dan menyemprotkan air ke atap, ia tetap kehilangan 130 ekor ayam saat suhu melonjak melampaui 35 derajat Celsius pada bulan sebelumnya.
"Musim panas telah menjadi ancaman baru bagi produsen seperti kami, sesuatu yang sama menakutkannya dengan wabah flu burung," kata Usuba.
Selain kerugian ternak dan hasil panen, laporan Lancet Countdown menunjukkan bahwa paparan panas ekstrem pada 2024 menyebabkan hilangnya sekitar 926 juta jam kerja di sektor pertanian Jepang. Secara makro ekonomi, potensi hilangnya jam kerja nasional akibat cuaca panas diperkirakan mencapai USD46 miliar atau sekitar 1 persen dari PDB Jepang.
Pemerintah Jepang telah memberlakukan regulasi sejak 2025 yang mewajibkan penyediaan prosedur pelaporan heatstroke di tempat kerja. Penggunaan teknologi modern seperti drone dan robotik juga terus didorong, meskipun pergeseran pola jam kerja manusia tetap menjadi strategi adaptasi lapangan paling efektif saat ini.