Pesawat Pemantau Temukan 11 Jenazah Migran di Laut Libya

Share

Sebuah pesawat pemantau yang dioperasikan organisasi non-pemerintah penolong migran menemukan 11 jenazah membusuk di laut lepas pantai Libya pada Sabtu (15/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom. Lokasi penemuan jenazah tersebut berada di zona pencarian dan penyelamatan Libya, tepatnya sekitar 57 mil laut dari kota pesisir Zuwarah.

Pesawat pemantau yang menemukan lokasi kejadian dioperasikan secara bersama oleh LSM SOS Mediterranee dan Humanitarian Pilots Initiative. Penjaga pantai Italia mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima pemberitahuan tersebut dan melanjutkannya kepada otoritas Libya.

Penemuan belasan jenazah terapung di laut tersebut mendapat perhatian serius dari pihak penemu lapangan yang mengkritik kebijakan migrasi wilayah setempat.

"Pemandangan mengerikan," sebut LSM SOS Mediterranee dalam sebuah pernyataan resmi.

LSM tersebut menjelaskan gambaran kondisi para korban yang mengapung saat ditemukan di perairan terbuka.

"Beberapa jenazah masih mengenakan pakaian, yang lainnya masih terapung dengan ban dalam," kata organisasi tersebut.

Kritik tajam disampaikan pihak LSM terkait dampak fatal dari pengetatan jalur perbatasan laut bagi para pencari suaka.

"Penampakan ini merupakan pengingat akan konsekuensi kemanusiaan dari kebijakan ketidakpedulian dan pencegahan yang mematikan di Eropa dengan segala cara," kata organisasi tersebut dalam sebuah pernyataan.

Setiap tahunnya, puluhan ribu migran berupaya menyeberangi Laut Mediterania dari Afrika Utara menuju negara-negara Uni Eropa bagian selatan. Data Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menunjukkan lonjakan tajam angka kematian migran di jalur Mediterania tengah, meskipun tingkat kedatangan migran menurun akibat kebijakan ketat Eropa.

IOM mencatat sebanyak 821 orang meninggal atau hilang pada empat bulan pertama tahun 2026, melonjak 111 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Lebih dari separuh kematian tersebut dipicu oleh cuaca buruk pada Januari. Sementara itu, jumlah kedatangan migran melalui rute tersebut turun 46 persen menjadi 8.577 orang. Badan perbatasan Uni Eropa Frontex melaporkan total penyeberangan perbatasan tidak teratur ke Uni Eropa turun 26 persen pada 2025 menjadi sekitar 178.000 penyeberangan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author