Pesanan 14 Peti Pisang MBG di Bandar Lampung Dibatalkan Sepihak
Imam Mustofa, pedagang buah dari Kota Metro, Lampung, mengalami pembatalan mendadak pesanan 14 peti pisang Cavendish senilai Rp2,1 juta yang ditujukan untuk dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bandar Lampung.
Peristiwa ini bermula pada 29 Juli 2026 saat seorang bernama Effendi menanyakan stok pisang Cavendish dan memastikan pemesanan sehari setelahnya.
Imam segera memesan stok dari pemasok karena pisang Cavendish membutuhkan waktu pematangan beberapa hari, sehingga pembatalan pesanan setelah barang datang sulit dihindari.
Menjelang pengiriman, Effendi mengabarkan pesanan dibatalkan dengan alasan dapur MBG yang menjadi tujuan sedang disuspend, namun sempat berjanji mengalihkan pesanan ke dapur lain.
Setelah menunggu dua hari tanpa kepastian, Imam memutuskan mencari pembeli lain demi menghindari kerugian karena kualitas pisang mulai menurun.
Imam sempat mendatangi lokasi dapur MBG di belakang Mall Kartini, Bandar Lampung, dan menemukan aktivitas masih berlangsung, namun meragukan keterlibatan resmi pihak dapur dalam pembatalan tersebut.
Saya datang langsung ke lokasi. Masih banyak aktivitas dan ompreng di sana. Dari situ saya menduga yang berhubungan dengan saya bukan pihak dapurnya, melainkan hanya perantara atau calo, ujar Imam Mustofa, pedagang buah.
Karena tidak mendapat kepastian, Imam membagikan pengalaman tersebut di media sosial Threads, yang kemudian mengundang perhatian dan bantuan dari warganet.
Alhamdulillah setelah saya posting di Threads banyak yang membantu. Ada yang beli, ada juga yang minta disumbangkan ke panti asuhan. Sisanya saya antar sendiri ke kantor-kantor sampai akhirnya habis, kata Imam.
Berkat respons tersebut, seluruh stok pisang yang awalnya terancam rusak dapat terjual sehingga modal sekitar Rp2,1 juta berhasil diselamatkan.
Imam mengakui kelalaian karena tidak meminta uang muka dan tidak memeriksa identitas pemesan sehingga kejadian serupa dapat terjadi.
Saya akui ini juga kelalaian saya karena tidak meminta uang muka dan tidak mengecek identitas pemesan. Selama ini saya sudah sering memasok ke dapur-dapur dan aman. Baru kali ini mengalami kejadian seperti ini, ungkap Imam.
Ia juga menyebut mendapat informasi dari warganet bahwa nama yang sama diduga pernah melakukan modus serupa pada pedagang lain, namun informasi tersebut belum terverifikasi.
Selain itu, ahli gizi SPPG Paiton, Ina Siska, mengklarifikasi bahwa permasalahan terkait pengadaan pisang MBG bermula dari pengiriman pisang hijau yang tidak sesuai standar, bukan keterlibatan militer seperti isu yang beredar.
Dapur kami membutuhkan pisang Cavendish sesuai standar menu, namun yang dikirim justru pisang hijau. Kami ingin menyajikan makanan yang benar-benar sesuai standar dan bergizi, ujar Ina Siska, ahli gizi SPPG Paiton.
Ina menjelaskan perbedaan mendasar antara pisang Cavendish matang yang berwarna kuning cerah dan pisang hijau yang kulitnya pekat dan teksturnya keras.