Pertengkaran Fans Piala Dunia 2026 di Bangladesh Tewaskan Satu Orang

Share

Seorang pendukung timnas Mesir bernama Mohammed Shariful Islam tewas setelah menjadi korban pengeroyokan akibat perselisihan saat menonton pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Mesir di sebuah warung teh di Cumilla, Bangladesh, pada Selasa (7/7/2026). Insiden berdarah ini dipicu oleh aksi saling ejek setelah megabintang Argentina, Lionel Messi, gagal mengeksekusi penalti pada menit ke-21 pertandingan tersebut, sebagaimana dilansir dari Detikcom yang mengutip media asing NDTV dan The Daily Star. Kiper Mesir, Mostafa Shobeir, berhasil menyelamatkan gawang dari tendangan penalti Messi, setelah sebelumnya Yasser Ibrahim mencetak gol keunggulan lewat sundulan untuk Mesir pada menit ke-15.

Penanggung jawab Pos Polisi Nazira Bazar, Shankar Kumar Das, membenarkan bahwa perdebatan memanas dan berujung perkelahian fisik setelah kegagalan penalti itu, di mana dua warga lokal bernama Babu dan Main Uddin Malu diduga memukul kepala Shariful yang berprofesi sebagai pengemudi becak motor.

Seorang saksi mata di lokasi kejadian mengungkapkan situasi awal sebelum perkelahian pecah ketika korban mulai mengolok-olok para pendukung tim tango. "Bapakmu enggak bisa cetak gol (your father could not score a goal)," ujar saksi itu menirukan Shariful, dikutip NDTV.

Korban sempat dilarikan oleh warga setempat ke Rumah Sakit Perguruan Tinggi Kedokteran Cumilla, tetapi ia kemudian dinyatakan meninggal dunia. Istri korban, Beauty Banu, menyampaikan rasa duka yang mendalam serta menuntut keadilan atas kematian suaminya yang meninggalkan dua anak perempuan yang masih kecil.

"Bagaimana mungkin orang membunuh seseorang hanya karena pertandingan sepak bola? Saya punya dua anak perempuan. Siapa yang akan mereka panggil ayah sekarang?

Kedua anak perempuan saya telah menjadi yatim piatu," kata Beauty Banu. Pihak keluarga korban yang kehilangan tulang punggung kini berharap agar para pelaku yang terlibat dalam pengeroyokan tersebut mendapatkan hukuman yang setimpal. "Saya menginginkan hukuman terberat bagi mereka yang membunuh suami saya.

Saya adalah wanita miskin dan tak berdaya. Bagaimana saya akan membesarkan kedua anak perempuan saya sekarang? Seluruh keluarga saya telah hancur," ujarnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author