Pertamina Turunkan Harga BBM Nonsubsidi per 1 Juli 2026
PT Pertamina (Persero) resmi memberlakukan penurunan harga untuk sejumlah jenis bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi serta bahan bakar penerbangan Avtur di wilayah Jabodetabek mulai Rabu, 1 Juli 2026.
Langkah koreksi ini memotong nominal harga cukup signifikan bagi konsumen eceran setelah adanya kenaikan harga pada 10 Juni lalu akibat volatilitas pasar global.
Berdasarkan informasi resmi dari Pertamina Patra Niaga, produk bensin kelas premium Pertamax Turbo (RON 98) mengalami penurunan sebesar Rp1.450 per liter atau setara 7 persen dari harga Juni 2026.
Komoditas solar nonsubsidi jenis Dexlite (CN 51) kini turun 14 persen, sedangkan varian Pertamina Dex (CN 53) mengalami penurunan paling tinggi mencapai 15 persen dari harga sebelumnya.
| Jenis Bahan Bakar | Harga Lama (per Liter) | Harga Baru (per Liter) | Nominal Penurunan |
|---|---|---|---|
| Pertamax Turbo (RON 98) | Rp20.750 | Rp19.300 | Rp1.450 |
| Pertamina Dex (CN 53) | Rp24.800 | Rp21.150 | Rp3.650 |
| Dexlite (CN 51) | Rp23.000 | Rp19.700 | Rp3.300 |
| Avtur Domestik (Soekarno-Hatta sebelum pajak) | Rp22.190 | Rp19.190 | Rp3.000 |
Sementara itu, harga produk nonsubsidi lain seperti Pertamax (RON 92) tetap dijual Rp16.250 per liter dan Pertamax Green (RON 95) tidak berubah pada angka Rp17.000 per liter.
Pemerintah juga tetap mempertahankan tarif BBM bersubsidi, dengan Pertalite konstan di angka Rp10,000 per liter dan Biosolar pada harga Rp6.800 per liter.
Penurunan berkala ini disesuaikan dengan Keputusan Menteri ESDM mengenai formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran jenis bahan bakar minyak umum.
“Sesuai yang kita ketahui penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengacu pada dinamika harga pasar minyak dunia dan mengikuti regulasi atau mekanisme yang berlaku. Tentunya langkah penyesuaian ini telah dikoordinasikan dengan pemerintah,” kata Kitty Andhora, Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga dalam keterangan pers.
Pihak manajemen menjelaskan bahwa evaluasi tarif berkala ini tetap mempertimbangkan aspek fiskal serta kemampuan daya beli masyarakat di sektor perekonomian nasional.
“Selain menghadirkan harga yang kompetitif, kami juga terus memastikan kualitas produk sesuai spesifikasi sehingga masyarakat memperoleh manfaat optimal, baik dari sisi performa kendaraan maupun efisiensi penggunaan bahan bakar,” tutup Kitty.