Pertamina Tahan Harga Pertamax untuk Amankan Arus Kas

Share

PT Pertamina (Persero) memutuskan untuk tidak menurunkan harga bahan bakar minyak nonsubsidi jenis Pertamax pada periode Juli 2026 guna mengamankan arus kas perusahaan, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz pada Kamis (2/7/2026).

Langkah mempertahankan harga bensin RON 92 di angka Rp16.250 per liter ini dinilai tepat oleh praktisi senior industri migas Hadi Ismoyo karena indikator makro belum mendukung penurunan harga.

Hadi Ismoyo memaparkan bahwa dengan rata-rata harga minyak mentah tahun berjalan sebesar US$88 per barel dan kurs rupiah di level Rp17.200 per dolar AS, harga dasar Pertamax diperkirakan berada di angka Rp15.700 per liter.

Setelah memperhitungkan biaya distribusi dan pajak, nilai keekonomian Pertamax mencapai Rp16.200 per liter, sehingga hanya berselisih Rp50 dengan harga jual di SPBU saat ini.

"Pertamax konsumsinya 12 juta kl/tahun. Jadi kalau harga diturunkan terlalu cepat, akan sangat mengganggu cash flow Pertamina. Harga BBM nonsubsidi high grade sebenarnya juga belum saatnya turun. Namun, karena jumlah [konsumsi]-nya kurang dari 5%, untuk 'pencitraan niat baik' mungkin diturunkan," kata Hadi ketika dihubungi, Rabu (1/7/2026).

Ia menambahkan bahwa kelancaran arus kas sangat krusial bagi Pertamina selaku BUMN untuk menjalankan tugas menjaga ketahanan energi nasional dan berkompetisi dalam pengadaan komoditas migas global.

Di sisi lain, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproeksikan harga keekonomian Pertamax berada di angka Rp16.444 per liter dengan mengacu pada formulasi penetapan harga, pergerakan minyak mentah Brent di kisaran US$87,9 per barel, dan kurs rupiah rata-rata Rp17.195 per dolar AS.

"Dengan asumsi rata-rata Brent sepanjang tahun berjalan US$87,9/barel dan rata-rata USD/IDR Rp17.195, perhitungan interpolasi dalam dokumen menunjukkan harga keekonomian Pertamax atau bensin RON 92 sekitar Rp16.444/liter," kata Josua.

Menurut Josua, ruang penurunan harga untuk periode Juli 2026 masih sangat terbatas apabila penyesuaian harga tetap mengacu pada rata-rata sepanjang tahun berjalan.

Kebijakan menahan harga Pertamax ini dilakukan di tengah penurunan harga sejumlah BBM nonsubsidi lainnya, seperti Pertamax Turbo yang turun menjadi Rp19.300 per liter, Pertamina Dex menjadi Rp21.150 per liter, dan Dexlite menjadi Rp19.700 per liter.

Sementara itu, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun sempat menjelaskan bahwa pemerintah akan memberikan kompensasi energi atas selisih nilai keekonomian Pertamax yang sempat menembus kisaran Rp17.000-an per liter sejak harga ditahan pada 1 April 2026.

"Ya, kurang lebih begitu kalau range hargannya [Pertamax di sekitar Rp17.000-an/liter]," kata Roberth ketika dihubungi, Selasa (12/5/2026).

Sistem pembayaran kompensasi dari pemerintah tersebut akan dieksekusi setelah melalui proses pembahasan berkala terkait selisih harga jual dan keekonomian.

"Untuk selisih, karena harga ditahan setiap bulan, diberikan kompensasi dari pemerintah untuk selisihnya setelah pembahasan," ujar Roberth.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: Harga BBM Pertamax Pertamina
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author