Dokter Ungkap Perbedaan Miom dan Kista Serta Solusi Laparoskopi

Share

Kecemasan sering kali melanda sebagian besar perempuan saat mendengar istilah miom atau kista karena membayangkan benjolan berbahaya pada organ reproduksi. Padahal, secara medis kedua kondisi ini memiliki karakteristik yang sepenuhnya berbeda.

Perbedaan mendasar antara miom dan kista terletak pada lokasi pertumbuhan serta isi dari benjolan tersebut. Miom merupakan tumor jinak berupa jaringan otot padat di dalam rahim, sedangkan kista berupa kantung berisi cairan yang berkembang di indung telur.

"Kalau miom itu dia kayak gendolan gitu ya. Daging tubuh padat gitu. Tumbuhnya di otot rahim. Kalau kista? Kalau kista itu isinya cairan. Cairan tumbuhnya di indung telur," jelas dr Luky saat ditemui detikcom, Senin (25/5/2026).

Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi dari Brawijaya Hospital Antasari, dr M Luky Satria Syahbana Marwali SpOG SubspKFER, memaparkan gejala kedua penyakit ini juga berbeda, seperti dilansir dari Detik Health.

Indikasi utama miom umumnya berkaitan erat dengan siklus menstruasi karena posisinya berada di otot rahim. Wanita yang memilikinya kerap mengalami volume darah haid berlebih, durasi menstruasi memanjang, nyeri panggul, hingga sembelit akibat tekanan benjolan pada kandung kemih.

Sebaliknya, kista indung telur lebih sering memicu rasa kembung atau begah pada perut karena letaknya bersentuhan langsung dengan rongga perut. Rasa nyeri tumpul atau tajam biasanya muncul di satu sisi perut bawah, terutama saat beraktivitas fisik atau berhubungan intim.

Keunggulan Metode Minimal Invasif Laparoskopi

Ketakutan terhadap operasi konvensional dengan sayatan lebar di perut kini dapat diredam berkat kemajuan teknologi minimal invasif. Prosedur laparoskopi menawarkan penanganan gangguan organ reproduksi yang jauh lebih ringkas dan nyaman bagi pasien.

"Jadi minimal invasif itu maksudnya akses ya, akses operasi kita. Jadi kita kan mau operasinya di dalam perut kan. Nah untuk mengakses dalam perut itu gimana. Kalau dulu perutnya dibuka lebar untuk kita bisa akses dalam perut itu. Nah kalau minimal invasif ini nggak perlu dibuka lebar-lebar, pakai kamera, pakai alat yang kecil, kita bisa akses dalam perut. Jadi sayatannya kecil aja. Itu bisa diagnosis dan treatment langsung sekalian," lapar dr Luky.

Langkah medis minimal invasif ini terbukti secara ilmiah memberikan tingkat nyeri pasca-operasi yang jauh lebih rendah. Berdasarkan studi meta-analisis berjudul "Laparoscopy versus laparotomy for benign ovarian tumours" dalam Cochrane Database of Systematic Reviews, risiko komplikasi infeksi luka luar juga menjadi sangat kecil.

Efisiensi waktu pemulihan pasien laparoskopi tercatat jauh lebih cepat sehingga mampu memangkas durasi rawat inap di rumah sakit. Hal ini berkontribusi langsung pada kenyamanan psikologis pasien sekaligus menghemat total biaya perawatan.

"Recovery-nya lebih cepat. Terus lukanya juga kecil. Jadi nyerinya juga lebih ringan ya. Karena nyerinya lebih ringan ya otomatis recovery-nya lebih cepat. Perawatan di rumah sakit juga lebih singkat," tutur dr Luky.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author