Kenali Perbedaan Gulai, Gule, dan Kari untuk Olahan Daging Kurban

Share

Masyarakat Muslim segera menyambut Hari Raya Idul Adha 2026. Setelah penyembelihan, potongan hewan kurban akan didistribusikan kepada masyarakat.

Daging kurban tersebut dapat dikreasikan menjadi beragam hidangan baku santan seperti gulai, gule, atau kari jika bosan dengan sate dan dendeng. Olahan ini menyuguhkan rasa gurih serta pedas berempah.

Dilansir dari Detik Food, ketiga masakan ini memiliki tampilan yang serupa namun bumbu rempah dan cita rasanya berbeda.

Gulai merupakan hidangan asal Sumatera yang dipengaruhi oleh seni memasak dari India. Hidangan ini kaya akan rempah dan memiliki racikan bumbu yang menyerupai kari.

Masakan Minangkabau banyak menggunakan bumbu gulai ini. Bahan yang diolah tidak sebatas daging, melainkan bisa berupa nangka, tunjang, hingga cumi.

Tekstur kuah gulai cenderung kental serta berwarna merah atau kuning. Di Sumatera, gulai menjadi tahapan proses masakan sebelum menjadi kalio atau rendang.

Rasa gulai dominan gurih dan agak pedas. Bumbunya memanfaatkan campuran ketumbar, adas, jinten, lada, cabai, dan kunyit.

Versi gulai merah memakai porsi cabai segar dan cabai bubuk yang lebih banyak untuk olahan jeroan, daging sapi, atau kambing. Sementara gulai kuning menggunakan kunyit lebih banyak untuk hidangan ikan dan seafood.

Kekhasan Gule di Pulau Jawa

Gule memiliki perbedaan mendasar dengan gulai meski sering dianggap sama. Hidangan ini berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Bahan utama gule lebih terbatas, umumnya hanya daging sapi atau kambing yang dipadukan dengan tulang serta jeroan.

Kuah gule berkarakter encer dan tidak pekat karena proses memasak tidak dilakukan sampai mengental. Warnanya kuning kecokelatan.

Cita rasa gule agak manis karena penggunaan gula, namun tetap mempertahankan sensasi gurih dan sedikit pedas.

Bumbu gule meliputi merica, kayu manis, kapulaga, pala, kunyit, dan sedikit cabai merah. Racikan ini memakai cabai Jawa yang biasa ditemukan pada jamu untuk menghasilkan aroma khas.

Ciri Khas Kari Indonesia

Kari diperkirakan muncul dari wilayah Pakistan lalu menyebar secara global melalui jalur perdagangan. Kuliner ini jamak dijumpai di wilayah Sumatera Utara seperti Aceh dan Medan.

Asal-usul kata kari merujuk pada sayuran dalam saus menurut bahasa Dravida. Sementara dalam bahasa Kannada, kata ini mengacu pada hidangan gorengan.

Bumbu rempah untuk kari tergolong komplet, terdiri atas kunyit, kayu manis, kapulaga, lada, ketumbar, jinten, hingga cengkeh. Daun kari juga ditambahkan untuk memperkuat aroma.

Berbeda dengan versi India, kari di Indonesia mempunyai cita rasa yang lebih ringan dan tidak terlalu pekat. Bumbu ini cocok dipadukan dengan daging sapi, kambing, maupun ayam.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author