Negara Maju Alami Penurunan Angka Kelahiran Dibanding Kematian

Share

Sejumlah negara maju di dunia saat ini menghadapi fenomena demografi dengan jumlah tingkat kematian yang melampaui angka kelahiran baru. Pergeseran populasi ini terjadi di beberapa wilayah seperti Amerika, Jepang, Korea Selatan, Inggris, Kuba, hingga Uruguay, sebagaimana dilansir dari HaiBunda pada Selasa (19/5/2026).

Kondisi ini memicu kekhawatiran terjadinya penyusutan populasi serta ketimpangan struktur usia penduduk. Berdasarkan data di Uni Eropa, sebagian besar negara anggota telah menunjukkan tren serupa dalam beberapa tahun terakhir.

"Di Uni Eropa pada tahun 2024, 21 dari 27 negara memiliki lebih banyak kematian daripada kelahiran," kata Profesor Sarah Harper, direktur Oxford Institute of Population Ageing.

Kecenderungan serupa juga melanda Inggris, di mana data statistik memproyeksikan peningkatan jumlah kematian akan terus melampaui kelahiran di masa mendatang. Kondisi tersebut dipicu oleh rendahnya angka kelahiran serta penuaan generasi pasca-perang dunia.

"Meski titik di mana jumlah kematian lebih banyak daripada kelahiran memiliki makna emosional yang mendalam, itu hanyalah bagian dari proses yang panjang," ujar Dr. Paul Morland, ahli demografi dan penulis buku No One Left: Why the World Needs More Children.

Meskipun usia harapan hidup terus meningkat sejak akhir abad ke-18, tren kelahiran justru menunjukkan penurunan konisten sejak akhir abad ke-19. Morland menambahkan bahwa pertemuan antara kedua tren grafik ini tidak dapat dihindari.

"Akan tiba suatu titik di mana kedua garis ini berpotongan," kata Morland.

Faktor penundaan usia pernikahan dan memiliki anak di kalangan generasi muda menjadi salah satu penyebab utama. Saat ini, tingkat kesuburan di Inggris hanya menyentuh angka 1,44, jauh di bawah standar ideal sebesar 2,1 anak per wanita untuk mempertahankan stabilitas populasi.

"Penurunan angka kelahiran baru-baru ini di Inggris sangat terlihat pada mereka yang berusia di bawah 30 tahun, yang mengindikasikan adanya penundaan," kata Profesor Melanie Channon dari University of Bath.

Kecenderungan penundaan kehamilan ke usia yang lebih tua tetap tidak mampu mendongkrak akumulasi jumlah kelahiran secara keseluruhan.

"Namun, bahkan dengan memperhitungkan tren menuju menjadi orang tua di usia yang lebih tua, angka kelahiran masih menurun," kata Channon.

Dampak ekonomi dari fenomena ini telah terlihat nyata di beberapa negara. Di Jepang, penjualan popok dewasa kini telah melampaui popok bayi, sementara di Italia, desa-desa yang sepi penduduk mulai menjual rumah dengan harga murah demi menarik warga baru.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author