Pengantin Tagih Amplop Pernikahan Setelah Setahun Menikah

Share

Tradisi memberikan amplop atau hadiah kepada pasangan pengantin baru telah lama menjadi kebiasaan lazim di masyarakat. Pemberian ini biasanya berfungsi sebagai bentuk ucapan selamat sekaligus dukungan moral serta finansial bagi pasangan yang sedang memulai lembaran hidup baru.

Walaupun tidak pernah ada aturan tertulis mengenai nominal atau jenis hadiah, tindakan ini umumnya bersifat sukarela. Oleh karena itu, bingkisan pernikahan lebih sering dimaknai sebagai wujud perhatian tulus daripada sebuah kewajiban yang mengikat.

Namun, sebuah kejadian tidak biasa menjadi sorotan publik ketika sepasang pengantin dinilai terlalu perhitungan. Seperti dilansir dari HaiBunda, pasangan tersebut nekat menagih hadiah pernikahan kepada sejumlah tamu undangan meskipun acara sakral mereka sudah berlalu selama satu tahun.

Tindakan tidak biasa ini langsung memicu perdebatan hangat di kalangan warganet mengenai batasan etika dan esensi dari pesta pernikahan itu sendiri. Kisah ini awalnya mencuat setelah seorang tamu undangan membagikan pengalaman tidak menyenangkannya di forum diskusi Wedding Shaming.

Tamu undangan tersebut mengaku sangat terkejut saat menerima e-mail dari seseorang yang memperkenalkan diri sebagai asisten pengantin perempuan. Surat elektronik itu bukan berisi ucapan terima kasih atau kabar terbaru, melainkan sebuah pengingat mengenai hadiah pernikahan yang belum ia berikan.

Pesan tersebut langsung memicu rasa heran sekaligus canggung karena pernikahan kerabatnya itu sudah berlangsung sangat lama. Di satu sisi, ia merasa malu karena kelalaiannya, tetapi di sisi lain ia merasa aneh dengan sikap pasutri tersebut.

"Awalnya, saya merasa tidak masalah untuk memberi mereka hadiah. Namun, rasanya sangat aneh melihat pengantin kaya raya tersebut menagih saya terkait hadiah itu, terutama karena saya hidup jauh dari mereka," tulisnya.

Pria tersebut merasa keberatan karena untuk menghadiri pesta tersebut saja ia sudah melakukan pengorbanan besar. Ia mengungkapkan telah menghabiskan dana lebih dari US$2.000 atau sekitar Rp32,3 juta untuk memesan tiket pesawat dan akomodasi penginapan.

Meski harus mengeluarkan biaya besar, awalnya ia tidak mempermasalahkan hal tersebut karena sangat menikmati seluruh rangkaian acara. Kehangatan momen bersama keluarga membuat pengeluaran puluhan juta tersebut terasa sepadan.

Sayangnya, kenyamanan itu berubah menjadi rasa bersalah setelah ia menerima e-mail penagihan tersebut. Demi menyelesaikan rasa tidak enak hati, ia segera mengirimkan hadiah disertai permohonan maaf, tetapi respons yang didapat justru mengecewakan.

"Karena sudah merasa malu, saya langsung mengirimkan mereka hadiah. Sayangnya, hingga sekarang, saya belum menerima ucapan terima kasih dari mereka," tuturnya.

Dampak dari insiden ini membuat hubungan pertemanan mereka perlahan-lahan merenggang dan menjauh. Tamu tersebut belakangan juga mengetahui bahwa pasangan pengantin baru itu kini justru sedang menghadapi proses perceraian.

Kritikan Tajam dari Warganet

Unggahan pengalaman tersebut langsung memanen beragam reaksi negatif dari para anggota forum yang menyayangkan sikap pihak pengantin. Mayoritas pengguna menilai bahwa tindakan menagih hadiah kepada tamu yang sudah berkorban waktu dan biaya adalah hal yang tidak sopan.

"Mengapa kamu yang malu? Seharusnya pengantin perempuan itu yang perlu malu. Dia mempermalukan dirinya sendiri dengan pesan yang kasar tersebut. Kamu sudah mengeluarkan banyak uang untuk menghadiri pernikahannya dan ia masih menagih hadiah, padahal dirinya sosok yang jauh lebih kaya," tulis salah seorang netizen, dikutip dari People.

Netizen tersebut juga menambahkan pandangannya mengenai esensi dari sebuah pemberian di hari pernikahan.

"Pengantin seharusnya tidak boleh memaksa tamu untuk memberi hadiah karena itu opsional," sambungnya.

Di samping komentar bernada kritik, beberapa warganet memilih menanggapi cerita kontroversial ini dengan gurauan ringan.

"Wah, jika aku yang mendapatkan pesan tersebut, aku pasti segera memasukkannya ke bagian spam," tulis salah satu pengguna.

Komentar lain juga muncul dengan nada menyindir isi surat elektronik dari pihak asisten pengantin tersebut.

"Kalau aku yang dapat pesan itu, aku akan membalas 'Terus bagaimana? Apakah aku akan dipenjara hanya karena lupa memberimu hadiah?'," lanjut pengguna yang lain.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author