Peneliti Temukan Spesies Monyet Baru Colobus congoensis di Kongo

Share

Sebuah spesies monyet baru ditemukan oleh para peneliti di Republik Demokratik Kongo dengan karakteristik yang tergolong unik. Monyet ini memiliki ciri khas berupa bibir berwarna oranye serta suara auman yang menggelegar.

Spesies baru tersebut memiliki nama ilmiah Colobus congoensis dan mendapatkan julukan 'Likweli' dari warga setempat. Primata ini menjadi spesies monyet baru kelima di benua Afrika yang berhasil diidentifikasi oleh para ilmuwan dalam kurun waktu 75 tahun terakhir, seperti dikutip dari Detik iNET.

Peneliti dari Florida Atlantic University dan City University of New York Graduate Center memaparkan bahwa monyet ini mempunyai bulu hitam mengkilap yang panjang, ekor panjang, serta corak wajah berwarna oranye dan krem yang mencolok.

Karakteristik pada tengkorak, gigi, dan kerangka khas menjadi pembeda utama yang memisahkannya dari spesies monyet colobus Afrika lain. Ukuran tubuh hewan ini juga lebih kecil dibandingkan kerabatnya, dengan berat badan berkisar 6,8 kilogram.

Penemuan satwa ini memberikan perspektif baru bagi dunia sains mengenai sejarah perkembangan primata di kawasan Afrika.

"Penemuan Colobus congoensis mengubah pemahaman kita tentang evolusi monyet Afrika," kata Kate Dewiler, penulis studi dan profesor ilmu biologi dari Florida Atlantic University, seperti dikutip dari CNN, Senin (20/7/2026).

"Kerabat terdekatnya yang diketahui adalah Colobus satanas, yang ditemukan lebih dari 1.200 kilometer jauhnya di Afrika bagian barat-tengah. Namun, bukti genetik kami menunjukkan kedua spesies tersebut berpisah sekitar 4 hingga 5 juta tahun yang lalu, menandai salah satu perpecahan evolusi tertua yang diketahui dalam garis keturunan Colobus," sambungnya.

Proses Identifikasi dan Status Konservasi

Sains membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk memastikan keaslian spesies ini sejak pertama kali ditemukan di lapangan.

Tahap identifikasi awal dimulai pada tahun 2008 saat peneliti mengambil foto monyet tidak biasa tersebut di Republik Demokratik Kongo. Observasi yang lebih jelas baru didapatkan 10 tahun kemudian, disusul dengan 114 pengamatan dari tahun 2018 sampai 2022.

Tim peneliti mengombinasikan pengamatan anatomi, studi lapangan, analisis genetika, serta pengetahuan ekologi dari masyarakat lokal untuk membuktikan statusnya sebagai spesies baru.

Kini, fokus para ilmuwan beralih pada status konservasi satwa tersebut karena sebarannya terpantau hanya berada di wilayah seluas sekitar 1.700 kilometer persegi.

"Para peneliti mengusulkan agar Colobus congoensis diklasifikasikan sebagai spesies yang terancam punah karena wilayah sebarannya yang terbatas, hilangnya habitat, dan tekanan perburuan," kata peneliti dari City University of New York Graduate Center.

"Sebagian besar habitatnya berada di dalam Taman Nasional Lomami, sehingga perlindungan wilayah tersebut sangat penting untuk kelangsungan hidup spesies ini," sambungnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author