Peneliti Northwestern Ciptakan Drone Transparan Berkecepatan Tinggi
Insinyur di Northwestern University berhasil menciptakan inovasi teknologi berupa drone transparan yang dapat terbang dengan sangat cepat. Kecepatan rotasinya yang tinggi membuat perangkat ini tampak buram dan hampir tidak terlihat oleh mata manusia, dilansir dari Detik iNET.
Rancangan drone ini sangat sederhana, hanya menggunakan rangka kawat serta satu baling-baling. Komponen tersebut memungkinkannya berputar hingga 25 kali per detik. Kecepatan ekstrem ini mereduksi wujud fisik objek menjadi bercak kabur yang berbaur dengan latar belakang.
Asisten profesor ilmu komputer di McCormick School of Engineering Northwestern, Emma Alexander, menjelaskan mekanisme visual di balik fenomena ini. Mata manusia membutuhkan waktu pengumpulan sinyal yang mirip dengan waktu pencahayaan kamera.
"Ketika suatu objek berputar cepat, kita mempersepsikannya sebagai objek yang kabur dan kehilangan fitur-fitur yang jelas. Karena drone baru ini hampir seluruhnya transparan, beberapa komponen buramnya secara visual dirata-ratakan dengan latar belakang sehingga secara keseluruhan tampak seperti kabut tipis," kata Alexander.
Desain unik dari perangkat ini dirancang dengan bantuan kecerdasan buatan (AI). Tim peneliti menggunakan simulasi komputer untuk menirukan proses seleksi alam guna mengeliminasi desain yang kurang efektif.
Proses pengembangan diawali dengan model komputasi yang menghasilkan sekitar 20.000 kemungkinan konfigurasi terbang stabil. Algoritma optimasi AI kemudian mengatur ulang letak motor, baling-baling, papan sirkuit, penyeimbang, hingga baterai.
Kandidat desain terbaik selanjutnya diuji dalam simulasi yang mendekati persepsi penglihatan manusia. Setelah melalui serangkaian proses optimasi, tim peneliti menetapkan bentuk akhir dan memproduksinya secara fisik.
Profesor Madya Ilmu Komputer dan Teknik Mesin di Northwestern, Michael Rubenstein, memimpin pengerjaan proyek ini. Ia menyoroti pendekatan baru yang digunakan oleh timnya dalam merancang tingkat visibilitas drone.
"Sebagian besar upaya untuk menyembunyikan drone berfokus pada membuatnya tampak seperti lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, kami bertanya apakah kami dapat mendesain drone itu sendiri berdasarkan cara manusia mempersepsikan gerakan," ujar Rubenstein.
"Gagasan visibilitas rendah melalui gerakan yang terus-menerus ini adalah sesuatu yang jarang dieksplorasi oleh orang lain," tambahnya.
Inovasi ini dinilai berpotensi dimanfaatkan untuk memantau satwa liar, survei lingkungan, serta pemeriksaan infrastruktur tanpa menimbulkan gangguan visual yang mencolok. Hasil riset ini telah dipresentasikan dalam konferensi Robotics: Science and Systems 2026 pada 16 Juli di Sydney, Australia.