Pemprov Jawa Tengah Akselerasi Perbaikan Jalan dan Infrastruktur Pertanian

Share

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memprioritaskan pembenahan infrastruktur konektivitas dan pengairan guna menggerakkan roda perekonomian daerah. Langkah ini berfokus pada perbaikan akses transportasi logistik serta pembangunan sarana pendukung sektor pertanian, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Hingga akhir tahun 2025, capaian kemantapan jalan provinsi mencatatkan angka 94,01 persen, atau sepanjang 2.293,96 kilometer dari total 2.440,12 kilometer. Sementara itu, tingkat kemantapan jembatan mencapai 85,43 persen dengan panjang total 22.733,45 meter.

Sejumlah proyek pemeliharaan jalan periode semester II-2025 melingkupi rute Parakan (Temanggung)-Patean (Kendal) serta rute Wonosobo-Dieng (Banjarnegara). Kedua jalur antar-wilayah tersebut dirancang untuk menopang sektor pariwisata dan rantai pasok ekonomi warga lokal.

"Terima kasih atas perbaikan jalan yang sudah dilakukan. Itu sangat bermanfaat dalam mendukung aktivitas sehari-hari masyarakat. Semoga jalan di titik lain juga dibangun agar semua ikut merasakan pembangunan yang dilakukan," ujar Kepala Desa Ngadirejo, Muhammad Abdillah Al Kafi.

Memasuki triwulan II-2026, tingkat kemantapan jalan provinsi tercatat sebesar 87,79 persen. Tingginya curah hujan selama triwulan pertama menjadi faktor utama yang mengikis lapisan aspal, sehingga target pemulihan 94 persen dipasang hingga akhir tahun.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menginstruksikan percepatan pengerjaan rehabilitasi jalan berlubang dengan mengalokasikan anggaran tambahan. Penanganan ini diprioritaskan pada perbatasan daerah serta jalur utama distribusi ekonomi.

Proyek pengerjaan tahun 2026 mencakup ruas Singget-Doplang-Cepu di Blora, Jepara-Keling, Wiradesa-Kajen di Pekalongan, hingga jalur penyelamat Kalijambe. Perbaikan juga menyasar area Brebes, Pemalang, Batang, Randublatung-Cepu, serta jalur Ngadirojo-Biting dan Ngadirojo-Giriwoyo di Wonogiri.

"Terima kasih pada Pak Gubernur mengalokasikan pembangunan jalan di Wonogiri. Setelah jadi, bisa bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan warga," kata Kepala DPUPR Kabupaten Wonogiri, Prihadi Ariyanto.

Penanganan jalan juga memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat melalui program Inpres Jalan Daerah (IJD). Pada 2025, program ini telah merampungkan 30 paket pekerjaan sepanjang 132,62 kilometer yang tersebar di 19 kabupaten/kota.

Pada tahun 2026, Pemprov Jawa Tengah bersama pemerintah daerah mengusulkan perbaikan jalan sepanjang 36,30 kilometer serta pembenahan jembatan sepanjang 249,70 meter ke pemerintah pusat.

Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pembangunan akses transportasi bertuju mempermudah mobilisasi warga dan distribusi logistik. Keselamatan pengguna jalan turut menjadi prioritas utama pembangunan fisik tersebut.

"Jalan ini kita banguan bukan sekadar fisiknya, tetapi agar pergerakan orang dan barang bisa berjalan dengan lancar dan aman. Kalau infrastrukturnya baik, konektivitas wilayah meningkat dan ekonomi masyarakat juga ikut bergerak," katanya.

Selain sektor konektivitas darat, Pemprov Jawa Tengah memprioritaskan pembangunan embung dan sistem pengairan. Infrastruktur penunjang pertanian ini disiapkan untuk menjaga produktivitas daerah sebagai lumbung pangan nasional.

Sepanjang 2025, pemerintah membangun delapan embung baru dan merevitalisasi dua embung lama. Memasuki awal 2026, sebanyak 12 embung baru yang tersebar di pelbagai wilayah berhasil diresmikan.

Salah satu hasil pembangunan terlihat pada Embung Kerangjati di Kabupaten Blora yang memasok air untuk 40 hektare lahan. Kehadiran fasilitas air tersebut mengubah pola tanam petani tadah hujan dari satu kali menjadi lebih dari dua kali setahun.

"Sumber air di sini tadah hujan. Tanam padi cuma sekali, kalua coba dua kali banyak gagalnya karena kurang air. Dengan bantuan embung ini bisa menanam sampai tiga kali," kata perwakilan kelompok tani Sidodadi Kelurahan Karangjati, Karyono.

Penyediaan embung menjadi strategi pemerintah daerah dalam menjamin ketersediaan air baku penopang ketahanan pangan. Masyarakat diimbau untuk merawat fasilitas air tersebut secara bersama-sama agar manfaatnya bertahan lama.

"Dalam pertanian itu kuncinya air. Orang menanam itu kuncinya air. Oleh karena itu kita bangun embung untuk menampung air hujan supaya saat kemarau masih bisa dimanfaatkan untuk mengairi sawah," katanya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author