Pemkot Bandung Tertibkan Kios Buku di Kawasan Dipatiukur
Pemerintah Kota Bandung menertibkan sejumlah bangunan liar dan kios pedagang kaki lima di sepanjang Jalan Dipatiukur dan Jalan Singaperbangsa, Kota Bandung, pada Rabu (24/6/2026). Dilansir dari Detikcom, penertiban yang menggunakan alat berat ini menyasar lapak-lapak yang berdiri di atas fasilitas trotoar.
Salah satu pedagang yang terdampak adalah Wagino, seorang pria berusia 64 tahun yang telah berjualan buku di kawasan tersebut selama 25 tahun. Kendati demikian, ia terpantau tetap tenang merapikan barang dagangannya saat pembongkaran berlangsung di sekitarnya.
"Iya, insyaallah setelah ini mungkin ya. Tapi saya belum ada pemberian surat (pembongkaran) saya masih ah, dagang saja. Dapat-dapat rezeki lumayan kan," kata Wagino.
Wagino memilih bersikap pasrah dan menerima kebijakan penertiban dari pemerintah setempat tanpa melakukan protes. Ia menyadari bahwa posisinya yang menggunakan trotoar jalan tidak memiliki kekebalan hukum dibanding pedagang lainnya.
"Masalah digusur ya sudah, nyerah saja. Kalau digusur saya nyerah, enggak apa-apa. Saya enggak akan melawan orang gedean," ujar Wagino.
Pedagang senior ini menilai tindakan adil dari pemerintah sangat diperlukan agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial di antara sesama pedagang kaki lima.
"Pasti, pasti (ditertibkan). Kalau enggak kan yang di sana pasti iri kan? Sama-sama PKL," kata Wagino.
Lapak buku milik Wagino sebelumnya menjadi rujukan populer bagi para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di sekitar Bandung untuk mencari literatur kuliah murah. Pelanggannya mencakup mahasiswa dari Universitas Padjadjaran hingga Institut Teknologi Bandung.
"Mahasiswa UNPAD, ITB, hampir semuanyalah. Kadang ada yang jalan-jalan dari luar ya," tutur Wagino.
Meski usaha ini berhasil mengantarkan anak-anaknya hingga lulus bangku kuliah, Wagino mengakui bahwa omzet penjualan buku fisik terus menurun akibat adopsi teknologi digital oleh masyarakat.
"Nggak seramai dulu karena ada HP, nggak seramai dulu," kata Wagino.
Dari hasil kerja kerasnya di trotoar tersebut, pria dengan tujuh anak dan tiga cucu ini bangga karena mampu membiayai pendidikan tinggi keluarganya.
"Karena saya kan punya anak pada kuliah, walaupun dari gini nih saya anak saya pada sarjana lho!" ucap Wagino.
Ia merincikan bahwa dua anaknya telah sukses meraih gelar sarjana, sedangkan anak bungsunya kini telah bekerja menetap di industri pelayaran.
"Saya anak tujuh, cucu tiga. Yang sarjana dua. Yang ketujuh (kerja) ke pelayaran," kata Wagino.
Sebagai langkah antisipasi kehilangan tempat jualan fisik, Wagino mengaku sudah merancang strategi baru untuk beralih ke ekosistem perdagangan digital demi melayani pelanggan setianya.
"Saya sudah ngerancang di rumah pakai online. Jualan online, ya saya pakai online ada lah beberapa toko ya yang sudah jalan (langganan beli buku)," ujar Wagino.
Faktor usia menjadi alasan utama bagi dirinya untuk lebih memilih beradaptasi dengan regulasi tata kota dan perkembangan zaman digital sekarang.
"Karena sudah tua umur saya kan 64 jalan, kalau digusur enggak mungkin ngelawan saya," kata Wagino.