Pemerintah Tanggapi Atensi Internasional Terkait Bencana Flores
Dukungan serta simpati dari komunitas internasional untuk korban bencana gempa bumi magnitudo 7,7 yang melanda wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, mendapat sambutan hangat dari Pemerintah Indonesia pada Senin (17/8/2026).
"Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh sahabat-sahabat kita di luar negeri yang telah menyampaikan simpatinya terhadap bencana yang dialami masyarakat Indonesia," ujar Sugiono, Menteri Luar Negeri RI.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul guncangan gempa tektonik pada Sabtu (15/8/2026) yang memicu dampak serius di wilayah Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan data sementara yang dihimpun dalam rapat koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Kabupaten Manggarai Barat pada Minggu (16/8/2026), peristiwa ini mengakibatkan 53 orang meninggal dunia dan 110 warga luka-luka.
Proses pendataan dan verifikasi korban serta tingkat kerusakan bangunan di lapangan masih terus berjalan. Gubernur NTT Melki Laka Lena mengonfirmasi bahwa rentetan gempa susulan membuat sebagian besar warga di kawasan utara Flores memilih bertahan di luar rumah karena trauma.
"Pasca-kejadian gempa dengan Magnitudo 7,7 kemarin, hari ini masih banyak warga yang ketakutan dan memilih untuk tidur di luar rumah, antisipasi gempa susulan yang terus terjadi. Dan wilayah Flores bagian utara itu yang terdampak serius," kata Melki Laka Lena, Gubernur NTT.
Untuk mempercepat penanganan darurat, seluruh pemerintah kabupaten terdampak diinstruksikan segera menetapkan status darurat kebencanaan dan mengaktifkan posko komando. Selain itu, pemerintah pusat mengoperasikan Posko Pendampingan Nasional (Pospenas) di Labuan Bajo dan Maumere guna memperkuat koordinasi penanggulangan lintas lembaga.