Pemerintah Selidiki Makalah MBG yang Cantumkan Nama Prabowo sebagai Penulis
Pemerintah Indonesia tengah melakukan investigasi terhadap sebuah makalah akademik setebal 69 halaman yang mencantumkan nama Presiden Prabowo Subianto sebagai salah satu penulis dan mengusulkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai kandidat Nobel Perdamaian 2026.
Makalah tersebut berjudul "Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by the National Nutrition Agency" dan diunggah ke platform Social Science Research Network (SSRN) pada 31 Maret 2026. Program MBG yang dibahas di dalamnya dianggap tidak hanya sebagai pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga sebagai model bisnis cerdas yang mendukung ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari menyatakan, "Lagi diinvestigasi," saat dikonfirmasi mengenai keaslian dokumen tersebut.
Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Benni Irwan mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mengklarifikasi surat yang terlampir dalam makalah bernomor ND/KIE/001/I/2026 yang diduga berasal dari Kemendagri.
"Sekarang lagi diklarifikasi, apakah itu memang Kemendagri secara kelembagaan atau bagaimana. Kemudian apakah surat yang disampaikan itu benar dari Kemendagri atau apa, kita pastikan dulu," ujar Benni.
Benni juga menyampaikan bahwa pihaknya telah menghubungi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) untuk mengonfirmasi keaslian surat yang dicantumkan dalam makalah tersebut.
"Saya sudah klarifikasi ke IPDN, itu bukan dari IPDN. Kita sudah telepon Pak Rektor, itu bukan dari IPDN," tambahnya.
Selain itu, Benni menyebutkan bahwa ada nama seorang staf bernama Azhar di Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Polpum) Kemendagri yang juga tercantum dalam makalah tersebut. Pihak Direktorat Jenderal Polpum meminta klarifikasi internal terkait hal ini.
"Memang ada staf yang namanya Azhar itu di Ditjen Polpum. Nah itu yang tadi Pak Dirjen Polpum meminta klarifikasi secara internal. Sejauh ini saya belum dapat hasil klarifikasi, saya belum dapat update," jelas Benni.
Makalah ini menjadi viral di media sosial setelah diunggah oleh sejumlah akun yang menyoroti pengajuan Program MBG sebagai kandidat Nobel Perdamaian 2026, salah satunya oleh akun @Txtdariugm di platform X dengan unggahan yang telah mendapat ribuan suka dan repost.
Dokumen tersebut juga mencantumkan sejumlah penulis lain dari berbagai institusi, termasuk akademisi nasional dan internasional yang menilai program MBG sebagai upaya sosial dan ekonomi yang menggabungkan pemenuhan gizi dengan pembangunan ekonomi berbasis ketahanan pangan.
Dalam makalah tersebut, program MBG dikaji menggunakan metode penelitian kualitatif Action Design Research (ADR) dengan data dari wawancara, diskusi kelompok terarah, dan analisis kebijakan.
Tujuan utama program ini adalah mengatasi ketimpangan gizi terutama bagi anak-anak dan keluarga berpenghasilan rendah, serta membangun ekosistem ekonomi pangan melalui keterlibatan UMKM dan produsen lokal.
Para penulis mengaitkan program ini dengan konsep perdamaian positif yang mencakup keadilan sosial, pengurangan kemiskinan, dan kesempatan ekonomi yang merata sebagai upaya mencegah konflik sosial.
Menurut dokumen, pengajuan program ini sebagai nominasi Nobel Perdamaian disampaikan dengan prinsip integritas akademik tanpa tujuan keuntungan pribadi, politik, atau komersial.