Pemerintah Mempercepat Pengoperasian PLTA Batang Toru Tapanuli Selatan
Pemerintah memacu percepatan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 megawatt di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, untuk memperkuat keandalan pasokan listrik kawasan Sumatera. Langkah ini diambil usai bencana banjir merobohkan lima menara transmisi pada November 2025 lalu, seperti dilansir dari Detik Finance.
Proyek Strategis Nasional bernilai Rp 21,6 triliun yang dikembangkan oleh PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) tersebut ditinjau langsung oleh Wakil Menteri ESDM Yuliot pada Kamis, 30 Juli 2026. Peninjauan ini ditujukan untuk memastikan kesiapan interkoneksi ke jaringan listrik Sumatera.
"Ini merupakan upaya percepatan kita untuk penyediaan dan keandalan energi secara nasional. Khususnya, kondisi energi di wilayah Sumatera cukup kritis sehingga kita memerlukan antisipasi. Dengan keterbatasan ketersediaan energi primer yang lain, kita sudah memiliki PLTA Batang Toru yang bisa on-grid," ujar Yuliot dalam keterangan tertulis, Jumat, 31 Juli 2026.
Upaya pemulihan infrastruktur penunjang jaringan kelistrikan saat ini terus dikawal oleh Kementerian ESDM, khususnya pada perancangan ulang struktur pondasi dan menara transmisi.
"Pembangunan kembali jalur transmisi ini dilakukan secara terakselerasi agar energi listrik dari PLTA Batang Toru dapat disalurkan dengan optimal ke dalam jaringan transmisi Sumatera," kata Yuliot.
Proyek yang berdiri di atas lahan seluas 650 hektare dan telah dimulai sejak 1 September 2017 ini sebelumnya juga sempat terhambat masalah administratif. Kelanjutan konstruksi dipastikan setelah Menteri Lingkungan Hidup mencabut sanksi administratif lewat Keputusan Nomor 1444 Tahun 2026 pada 16 Maret 2026.
Proses administrasi kini berjalan beriringan dengan pengujian teknis pembangkit yang membutuhkan penggenangan air di area waduk.
"Testing yang dilakukan ini namanya PLTA kan harus ada genangan. Kalau tidak ada genangan, testing tidak bisa kita lakukan. Berarti antara penyelesaian administratif dan juga pelaksanaan testing itu kita lakukan secara paralel," jelas Yuliot.
Pengoperasian proyek ini ditargetkan menyokong capaian bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) nasional yang saat ini berada pada angka 16 persen hingga 17 persen.
"Jika kita tidak melakukan percepatan-percepatan, maka target bauran energi 21 persen tidak akan tercapai hingga akhir tahun," tutup Yuliot.