Pemerintah Matangkan Pembaruan Buku Ajar Sekolah Nasional
Pemerintah tengah mematangkan pembaruan buku ajar sekolah nasional dari tingkat SD hingga SMA untuk memperkuat fondasi pendidikan. Kebijakan ini diambil menyusul temuan langsung Presiden Prabowo Subianto terkait rendahnya kualitas fisik dan materi buku pelajaran saat meninjau sejumlah sekolah, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Kamis (7/8/2026).
Pemeriksaan langsung terhadap buku-buku pelajaran yang digunakan peserta didik mengungkap berbagai masalah fisik yang dinilai mengganggu proses belajar mengajar. Kondisi material yang rapuh serta ukuran cetakan yang tidak proporsional menjadi perhatian utama dalam evaluasi awal tersebut.
"Saat mengecek buku pelajaran, itu beliau lihat satu per satu, kemudian kok ada yang bahannya mudah rusak, ada yang sudah rusak juga, kemudian tulisannya kecil-kecil, sehingga anak-anak SD khususnya bacanya sangat dekat, kemudian ya kalau dibaca kurang baik. Sehingga atas dasar itu, beliau mau cek buku-buku dari SD sampai SMA semuanya," kata Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet.
Evaluasi berlanjut dengan membandingkan standar buku ajar dalam negeri terhadap penerbitan edukasi di negara-negara tetangga guna meningkatkan mutu cetakan nasional.
"Awalnya yang punya kita dulu, dicek dulu semuanya, beliau lihat satu-satu. Kemudian coba dibandingkan ke negara tetangga. Pada awalnya seperti itu, sehingga yang tadi Pak Mensesneg sampaikan, dicek, nanti intinya akan diperbaiki menjadi lebih baik," ungkap Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet.
Selain fisik buku, penataan ulang fokus pembelajaran turut mencakup penguatan karakter kebangsaan, penuntasan ketertinggalan di bidang sains dan teknologi seperti matematika, serta penguasaan bahasa asing untuk menghadapi kompetisi global.
"Kedua, mengejar ketertinggalan di bidang sains dan teknologi, basic-nya adalah salah satu contohnya adalah matematika. Yang ketiga, untuk menghadapi kompetisi global, salah satu concern beliau adalah kemampuan bahasa asing, salah satunya adalah bahasa Inggris," kata Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara.
Peningkatan mutu cetak diarahkan agar buku memiliki tampilan visual yang menarik, ketik teks yang nyaman dibaca, serta bahan tahan lama sehingga dapat diwariskan kepada peserta didik pada jenjang berikutnya.
"Kalau tampilan tadi sudah kami jelaskan, penginnya besar, menarik, tulisan tidak kecil-kecil, bahannya pun juga yang bagus supaya itu bisa bertahan dalam sekian waktu. Mungkin kadang-kadang, dulu kan ada yang buku ini tidak dimiliki pribadi dan kemudian bisa diwariskan atau dipakai oleh adik kelasnya," jelas Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara.
Pemerintah juga berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk menghidupkan kembali budaya wajib membaca buku di lingkungan pendidikan nasional, mengadopsi tradisi membaca yang diterapkan keluarga Presiden sejak kecil.
"Sejak usia belia, keluarga Pak Mitro selalu mewajibkan putra-putrinya untuk setiap minggu membaca sekian buku, kemudian membuat rangkuman dan disampaikan kepada orang tua. Itu adalah juga cara mendidik yang kami juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian Dikdasmen untuk itu juga mulai kita galakan lagi, mulai kita giatkan lagi, gemar membaca buku dan wajib membaca buku bagi kita semua," ujar Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara.