Pemerintah Jelaskan Tata Letak Duduk Prabowo dan Gibran Saat Sidang Kabinet

Share

Pemerintah dan Partai Gerindra memberikan klarifikasi terkait tata letak posisi duduk Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang tidak berdampingan saat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7/2026). Pengaturan tersebut murni karena kebutuhan teknis penyelenggaraan acara.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa Presiden Prabowo membutuhkan posisi di tengah agar dapat membaca data pencapaian pemerintah melalui alat bantu teleprompter.

"Di situ karena beliau ingin menjelaskan banyak sekali program, maka kemarin kalau saudara-saudara perhatikan karena banyaknya program itu juga harus diikuti atau didukung dengan data-data, maka kemarin beliau kan menggunakan alat bantu namanya teleprompter," jelas Prasetyo Hadi, Mensesneg.

Prasetyo menegaskan bahwa posisi Wakil Presiden yang berada sejajar dengan para menteri murni alasan teknis dan tidak perlu dikhawatirkan.

"Itulah yang kemudian kenapa menjawab pertanyaan yang secara layout kalau saudara-saudara kemarin perhatikan Bapak Presiden berada di tengah-tengah, dan kalau yang dipertanyakan adalah posisi dari Bapak Wakil Presiden, kalau menurut kami, ini hanya masalah kebutuhan teknis semata," ucap Prasetyo Hadi, Mensesneg.

Penjelasan senada disampaikan oleh Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari. Ia menyatakan tata letak tersebut dirancang dalam format taklimat untuk mendukung efektivitas pengarahan kepada seluruh peserta sidang.

"Posisi duduk pada Sidang Kabinet Paripurna mengikuti format taklimat Presiden kepada Seluruh anggota sidang kabinet," ungkap Muhammad Qodari, Kepala Bakom.

Ia menepis anggapan bahwa pengaturan tempat duduk tersebut memengaruhi hak maupun wewenang konstitusional Wapres.

"Bukan format rapat yang menempatkan Presiden dan Wakil Presiden berdampingan," ujarnya Muhammad Qodari, Kepala Bakom.

Qodari menegaskan bahwa Gibran hadir sebagai peserta bersama anggota Kabinet Merah Putih lainnya tanpa mengurangi peran kepemimpinannya.

"Pengaturan tempat duduk semata-mata merupakan teknis penyelenggaraan acara, tidak ada perubahan kedudukan ataupun pengurangan peran konstitusional Wakil Presiden," tegas Muhammad Qodari, Kepala Bakom.

Sementara itu, Ketua DPP Gerindra Bambang Haryadi meminta publik untuk tidak memprovokasi atau meragukan kekompakan kepemimpinan nasional.

"Jadi jangan didramatisasi. Presiden dan Wakil Presiden bekerja saling melengkapi. Ada pihak yang ingin memecah kekompakan keduanya, dengan menframing narasi provokatif. Tapi kami yakin masyarakat tidak akan terpengaruh," ujar Bambang Haryadi, Ketua DPP Gerindra.

Bambang menambahkan bahwa Prabowo senantiasa memberikan ruang luas bagi Gibran untuk bekerja memantau program-program pemerintah di daerah.

"Pak Presiden Prabowo dan Mas Wapres Gibran saling melengkapi dalam bekerja. Keduanya selalu kompak," ucap Bambang Haryadi, Ketua DPP Gerindra.

Ia mencontohkan langkah Wapres yang rutin turun ke lapangan guna menyerap aspirasi warga secara langsung.

"Mas Gibran berkeliling ke daerah-daerah untuk mengecek program pemerintah telah berjalan sesuai atau masih perlu perbaikan dan menyerap aspirasi masyarakat, mewakili Presiden. Itu bentuk kekompakan yang nyata antara Pak Presiden dengan Mas Wapres," imbuh Bambang Haryadi, Ketua DPP Gerindra.

Di sisi lain, dalam sidang kabinet tersebut, Presiden Prabowo memaparkan capaian ketahanan pangan nasional, termasuk pencapaian cadangan beras tertinggi sepanjang sejarah RI serta penguatan sistem perlindungan sosial.

"Makan bergizi gratis, MBG 74.560.000 siswa, ibu hamil, menyusui, balita, dan lanjut usia. Cek kesehatan gratis, 130.800.000 orang. Kalau ini pertama kali cek kesehatan gratis. Kita cek, tahu kondisi, tahu masalah, tahu apa yang kita harus kerjakan sekarang," ungkap Presiden Prabowo Subianto.

Presiden menekankan bahwa pemerintah berkomitmen memperluas investasi sumber daya manusia dan melanjutkan program proteksi masyarakat.

"Jangan anggap enteng kita terus. We are strong, we are rich, and we will be richer. Kita akan lebih kaya," kata Presiden Prabowo Subianto.

Prabowo turut menyoroti efektivitas berbagai program bantuan sosial seperti FLPP, subsidi energi, hingga bantuan pangan yang terus diperkuat.

"Jadi ini saya tegaskan, ternyata kita punya sistem perlindungan sosial, negara kesejahteraan, welfare state, salah satu terkuat di dunia. Kalau kita lihat program satu-satu, dan sebagian program-program ini dilaksanakan oleh Presiden-Presiden sebelum kita, pemerintah sebelum kita," ucap Presiden Prabowo Subianto.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author