Iran Memulai Prosesi Pemakaman Enam Hari Ayatollah Ali Khamenei

Share

Prosesi pemakaman umum untuk pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, resmi dimulai di Grand Mosalla, Teheran, pada Sabtu (4/7) pagi waktu setempat. Acara penghormatan terakhir ini direncanakan berlangsung selama enam hari berturut-turut.

Ribuan pelayat berkumpul di halaman kompleks keagamaan tersebut dengan membawa spanduk merah sebagai simbol pembalasan menjelang kedatangan peti mati Khamenei. Berdasarkan laporan stasiun televisi pemerintah Iran yang dilansir dari Detikcom, prosesi pemakaman ini juga akan berlanjut ke wilayah Irak.

Aksi massa di lokasi pemakaman diwarnai oleh yel-yel politik yang diserukan oleh para pelayat yang hadir. Jurnalis kantor berita AFP di lokasi melaporkan bahwa massa meneriakkan slogan anti-Amerika Serikat dan seruan untuk melakukan aksi balasan atas situasi yang terjadi.

"matilah Amerika" dan "balas dendam, balas dendam" kata para pelayat di lokasi tersebut sebagaimana dilaporkan kantor berita AFP.

Konflik yang meluas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran ini turut memicu respons negatif dari warga di kawasan sekitar, khususnya di wilayah konflik lain. Sejumlah warga Palestina di kamp pengungsian Gaza mengeluhkan bahwa perhatian dunia internasional terhadap krisis di wilayah mereka menjadi terabaikan akibat ketegangan baru tersebut.

"Seing Amerika Serikat berperang dengan Iran, seluruh dunia telah melupakan Gaza dan tragedinya. Kami tidak lagi memiliki siapa pun yang membela kami," kata Ahmed Jamali, seorang warga Palestina dari kamp pengungsian di Gaza.

Kondisi di Gaza dianggap semakin memburuk tanpa adanya tindakan nyata dari komunitas internasional untuk menghentikan aksi militer Israel. Konflik bersenjata yang terus berlanjut membuat warga sipil merasa tidak memiliki kekuatan dalam menghadapi situasi tersebut.

"Kami lemah dan tertindas, dan Israel melakukan apa pun yang diinginkannya: membunuh, menghancurkan, dan menduduki Gaza, sementara tidak ada seorang pun di dunia yang berbuat apa pun," cetus Jamali.

Sementara itu, sentimen solidaritas terhadap Palestina juga muncul dari arena olahraga internasional pascapertandingan Piala Dunia 2026. Pelatih Timnas Mesir, Hossam Hassan, mendedikasikan kemenangan bersejarah timnya atas Australia di Stadion Dallas, Amerika Serikat, untuk rakyat Palestina.

"Semoga Allah menganugerahkan kemenangan kepada mereka [rakyat Palestina], semoga Allah mengampuni para martir mereka," ujar Hassan kepada wartawan setelah pertandingan.

Di belahan dunia lain, situasi keamanan global juga memanas setelah militer Rusia menembak jatuh puluhan rudal Ukraina di kota kelahiran Presiden Vladimir Putin. Serangan pesawat tanpa awak tersebut terjadi menyusul operasi militer besar-besaran Rusia di Kyiv yang menewaskan puluhan orang pada pekan ini.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author