Daftar 6 Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Para Ahli
Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai merambah berbagai sektor industri. Sejumlah tugas operasional yang biasa dikerjakan manusia kini dialihkan ke sistem otomatisasi demi efisiensi.
Kondisi ini kerap memicu kekhawatiran terkait keberlanjutan berbagai profesi di masa mendatang. Meski demikian, para pakar menilai tidak semua jenis pekerjaan dapat digantikan oleh teknologi dengan mudah, sebagaimana dilansir dari HaiBunda.
Profesi yang mengandalkan empati, kreativitas, keahlian fisik, serta pengambilan keputusan kompleks dinilai tetap membutuhkan keterlibatan manusia. Memahami bidang kerja yang tahan disrupsi menjadi langkah penting dalam perencanaan karier jangka panjang.
Di dunia medis, AI banyak membantu tugas administratif seperti memproses resep dan mengolah data pasien. Namun, wewenang menetapkan diagnosis serta tindakan medis tetap berada di tangan tenaga kesehatan.
Apoteker Oushk Pharmacy Hira Malik menjelaskan bahwa AI mampu menyusun informasi, tetapi tidak dapat memutuskan keamanan suatu pengobatan bagi pasien. Hal senada disampaikan dokter spesialis bedah rekonstruksi Dr. Riaz Agha yang menilai setiap pasien memiliki kondisi spesifik sehingga keputusan akhir tetap membutuhkan dokter.
Pada bidang pendidikan, kehadiran sosok pengajar dinilai tidak tergeser oleh teknologi. Pendiri Generational Success Lab Oxford University Sharath Jeevan menyebut siswa selalu membutuhkan pembimbing manusia untuk membangun karakter dan motivasi.
Sektor pengasuhan anak juga menunjukkan ketahanan serupa. CEO Tiney Brett Wigdortz menegaskan kehangatan dan perhatian pengasuh manusia tidak dapat direplikasi oleh sistem AI, meski teknologi dapat membantu urusan administrasi.
Bidang Hukum, Pelayanan, dan Tenaga Terampil
Sektor hukum memanfaatkan AI untuk tugas rutin seperti memeriksa dokumen dan menyusun draf awal. CEO Lawhive Pierre Proner menyatakan peran pengacara junior atau paralegal tidak akan hilang, melainkan bergeser ke fokus analisis kritis dan konsultasi klien.
Sementara itu, Wakil Presiden Law Society of England and Wales Brett Dixon menilai otomatisasi tugas rutin justru memberi ruang bagi praktisi hukum untuk menangani kasus yang lebih kompleks.
Di industri perhotelan, staf yang memberikan pelayanan langsung tetap memegang peranan kunci. Akademisi Nova School of Business and Economics Prof. Graham Miller mengemukakan interaksi ramah secara langsung dengan tamu tidak bisa digantikan AI, begitu pula dengan kreativitas orisinal seorang koki.
Sektor konstruksi dan tenaga terampil seperti tukang kayu atau tukang batu juga tergolong tangguh. Chief Executive Federation of Master Builders Brian Berry menyampaikan pekerjaan lapangan membutuhkan ketelitian dan penyesuaian kondisi fisik yang sulit dilakukan oleh mesin.
Spesialis Data dan Keuangan
Perbankan menjadi salah satu sektor yang paling agresif menerapkan otomatisasi pada layanan pelanggan dan operasional. Meski demikian, kebutuhan terhadap profesi pengolah data justru mengalami peningkatan.
Analis senior Bloomberg Intelligence Tomasz Noetzel mengungkapkan permintaan untuk posisi data scientist, engineer AI, hingga pengembang perangkat lunak diperkirakan terus tumbuh. Posisi yang membutuhkan pertimbangan profesional seperti analisis risiko dan auditor internal juga lebih bertahan dari dampak disrupsi.