Pedagang Atribut Kemerdekaan Pasar Asemka Keluhkan Penjualan Turun

Share

Pedagang atribut dan ornamen bernuansa merah putih di Pasar Asemka, Jakarta Barat, mengeluhkan penurunan jumlah pembeli menjelang peringatan 17 Agustus 2026 jika dibandingkan dengan tahun lalu, dilansir dari Detikcom.

Kondisi lesunya penjualan tersebut tetap terjadi meski momen hari kemerdekaan Republik Indonesia sudah memasuki H-2. Para penjual merasakan penurunan omzet akibat berkurangnya kunjungan warga yang berbelanja pernak-pernik.

Seorang pedagang atribut topi, Amran (40), mengungkapkan perubahan situasi pasar yang dirasakannya pada tahun ini.

"Biasanya H-3 mau 17 (Agustus)-an ramainya, kemarin juga ramai. Memang sih kalau dibandingin tahun yang lalu, ramean tahun lalu. Kemarin aja 7 hari mau 17-an udah ramai, puncak-puncaknya 3 hari mau hari-H," kata Amran.

Ia menambahkan kondisi lalu lalang pembeli di area pasar tampak jauh lebih senggang dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

"Kalau tahun yang lalu, tiga hari yang lalu ini kita nggak bisa lewat ini. Sekarang aja ini agak-agak santai, usually saya mau keluarin motor aja nggak bisa, besok sih kayaknya ramai," ujar Amran.

Amran yang sudah berdagang topi kemerdekaan selama empat tahun di Pasar Asemka menjelaskan adanya pergeseran tren tren barang yang dicari masyarakat.

"Kalau tahun lalu anak-anak karena kan buat karnaval, parade. Tahun ini ibu-ibu, yang ini, ibu-ibu kan ada olahraganya, senam. Itu jujur aja yang laku ini itu aja tuh. Dulu anak-anak sekarang udah kurang," kata Amran.

Demi menghabiskan stok barang yang menumpuk, Amran terpaksa memangkas harga jual topi kemerdekaan dari Rp27.500 menjadi Rp25.000 per unit, di mana kapasitas pemesanan barangnya juga turun drastis dari Rp3 juta menjadi Rp1 juta per minggu.

"Rp 25 ribu, udah saya turunin karena sepi kan. Stok banyak harus dihabisin. Tahun lalu Rp 27.500 aja kita kurang itu, datang lagi berapa kodi habis lagi," ujar Amran.

Selain harga dan tren pembeli, hilangnya pelanggan dari luar daerah turut mempengaruhi penurunan omzet usahanya secara keseluruhan.

"Udah begitu langganan yang luar daerah sudah nggak ada, sekarang sudah nggak ada," kata Amran.

Keluhan senada disampaikan pedagang bendera dan ornamen kemerdekaan lainnya di Pasar Asemka, Ridwan (38).

"Beda sama tahun kemarin, banyak orangnya aja jalan-jalan. Pembeliannya nggak terlalu kayak tahun kemarin. Beda banget," kata Ridwan.

Ridwan menjelaskan masyarakat umumnya membeli bendera pada awal Agustus, sedangkan pernak-pernik dan hiasan lebih banyak dicari mendekati hari H.

"Ya bendera, aksesori, campur. Tengah-tengah mau menjelang akhir banyakan aksesori yang nyarinya, kayak model ginian, bendera yang kayak gini, stiker, hiasan sepeda, yang santai. Nyarinya kebanyakan. Kalau bendera paling tanggal 5 tanggal 6 tuh, kalau tanggal-tanggal akhir buat hiasan-hiasan," ujar Ridwan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author