Partai Kecoak India Gelar Demo Tuntut Menteri Pendidikan Mundur
Gerakan satire Cockroach Janta Party menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Jantar Mantar, New Delhi, untuk menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan Federal India Dharmendra Pradhan. Aksi massa pada Senin (20/7/2026) ini dipicu oleh dugaan kebocoran soal ujian nasional dan kecurangan sistem pendidikan yang merugikan para pemuda, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Gerakan yang berawal dari sindiran Ketua Mahkamah Agung India Surya Kant pada Mei 2026 tersebut diinisiasi oleh Abhijeet Dipke, seorang alumnus Universitas Boston. Surya Kant sebelumnya menyamakan generasi muda yang kesulitan mendapat pekerjaan dengan parasit dan kecoak yang tidak memiliki tempat dalam profesi apa pun.
"Ada kaum muda seperti kecoak, yang tidak mendapatkan pekerjaan atau memiliki tempat dalam profesi apa pun. Beberapa dari mereka menjadi media, beberapa menjadi media sosial, aktivis RTI dan aktivis lainnya, dan mereka mulai menyerang semua orang," kata Ketua Mahkamah Agung India Surya Kant.
Sebagai bentuk protes atas pernyataan tersebut, Dipke mendirikan Partai Janta Kecoak yang dengan cepat meraih jutaan pengikut di media sosial. Gerakan massa di lapangan dimulai sejak 6 Juni 2026 ketika Dipke kembali ke India dan memimpin unjuk rasa perdana untuk mendesak menteri pendidikan mundur.
"Namun, ini tidak berakhir di sini. Dharmendra Pradhan telah merugikan seluruh generasi. Jika ia tidak dicopot atau tidak mengundurkan diri dalam tujuh hari ke depan, kami terpaksa akan melanjutkan aksi protes kami di lapangan," tulis Pendiri CJP Abhijeet Dipke.
Meskipun unjuk rasa awal di New Delhi sempat dinilai antiklimaks karena hanya diikuti kurang dari 2.000 orang, pihak penyelenggara menegaskan bahwa pergerakan ini baru saja dimulai. Struktur organisasi yang masih baru menjadi tantangan utama dalam mengumpulkan massa secara masif.
"Ada banyak tantangan dalam menggerakkan orang di lapangan. Kami bukan organisasi terdaftar atau serikat pekerja. Untuk memiliki struktur semacam itu, akan membutuhkan waktu. Begitu kami memilikinya, menggerakkan orang juga akan lebih mudah," ujar Juru Bicara CJP Saurav Das.
Eskalasi protes terus berlanjut hingga ribuan demonstran berkumpul kembali di pusat ibu kota pada pertengahan Juli. Gerakan satire online ini kini menjadi salah satu tekanan politik terbesar bagi pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi sejak masa jabatan ketiganya dimulai pada 2024.
"Kami tidak akan berhenti. Pradhan harus dicopot," kata Perwakilan CJP Ashutosh Ranka.
Hingga Selasa (21/7/2026), ratusan demonstran bertahan dengan berkemah di kawasan Jantar Mantar. Massa terus menyuarakan desakan reformasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan di India.