Oppie Andaresta Mengaku Posesif Usai Anak Kuliah di ITB

Share

Penyanyi Oppie Andaresta beradaptasi dengan status barunya setelah sang putra, Kai Matari Bejo Kaler, yang berusia 18 tahun kini tinggal terpisah untuk menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Penyesuaian jarak jauh ini diungkapkan Oppie pada Rabu, 20 Mei 2026, dilansir dari HaiBunda.

Kedekatan dengan anak semata wayang membuat Oppie merasa kehilangan rutinitas harian yang biasa ia lakukan sejak Kai kecil. Rasa rindu yang besar diakui membuatnya menjadi sosok ibu yang cukup posesif terhadap sang anak.

"Dia adalah pria yang baik ya. Maksudnya, saya dan suami cukup bangga lah punya anak. Belajarnya hampir tidak pernah dikasih tahu," ungkap Oppie.

Penyanyi berusia 53 tahun tersebut menjelaskan bahwa status Kai sebagai anak tunggal memicu sifat protektif dalam dirinya. Keinginan untuk terus bertemu membuat Oppie kerap melakukan perjalanan ke Bandung secara berkala.

"Tapi memang karena anaknya cuma satu, (jadi) emak-emak posesif. Enggak ketemu itu enggak bisa," ungkap Oppie.

Transisi emosional dirasakan cukup berat oleh Oppie karena hilangnya kebiasaan mengurus anak di pagi hari. Kendati demikian, ia berusaha menerima perubahan tersebut demi kemandirian sang putra.

"Iya (sedih), kan biasa dari pagi bangun tidur sudah urusin dia, tiba-tiba dia sudah bisa mandiri gitu. Jadi kayak kehilangan profesi sebagai seorang ibu. Ini lagi masa transisi, jadi lama-lama sudah bisa terima," katanya.

Menurut Oppie, tantangan terbesar dalam melepas anak untuk merantau sebenarnya berada pada kesiapan mental orang tua itu sendiri. Anak-anak dinilai memiliki kemampuan adaptasi yang lebih cepat dibandingkan orang tua mereka.

"Tapi kita sebagai orang tua memang harus sadar bahwa anak memang harus dilepas pelan-pelan ya. Kalau enggak, dia enggak akan mandiri," ungkap perempuan 53 tahun ini.

Orang tua dinilai perlu memberikan ruang agar anak bisa belajar menghadapi masalahnya sendiri selama masa perkuliahan.

"Sebenarnya anak kita kuliah, dilepas mandiri, mereka enggak ada masalah. Justru masalah adanya di kita. Mereka cepat beradaptasi, kalau ada masalah akan belajar." sambung Oppie.

Sifat protektif Oppie dikonfirmasi langsung oleh Kai yang membenarkan bahwa ibunya sering datang berkunjung tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kunjungan mendadak tersebut bahkan intensitasnya bisa terjadi hampir setiap pekan.

"Sebenarnya walaupun (hidup) terpisah, tiap minggu tuh dia tiba-tiba datang gitu. Enggak dikabarin, aku balik ke kos, tiba-tiba (datang) itu bisa tuh. Sering tiap minggu," ujar Kai.

Meskipun menikmati kebebasan pada awal masa merantau, Kai tidak menampik rasa rindu terhadap suasana rumah dan masakan ibunya yang mulai muncul pada bulan-bulan berikutnya.

"Aku pas sebulan pertama kayak bahagia, kayak aduh lumayan nih independent, bisa ngerantau sendiri, hidupnya bebas. Tapi sebenarnya setelah sebulan pertama dan bulan kedua, kayak kangen juga lama-lama, enggak dimasakin," katanya.

Bagi Kai, ibunya merupakan sosok pendukung emosional utama tempat ia mengadu saat menghadapi tekanan tugas kuliah maupun ketika merindukan keluarga.

"Mama itu emotional support. Aku selalu telepon Mama kalau aku lagi stres, kayak kadang-kadang lagi butuh uang, yah namanya juga anak ya," ungkapnya.

Kai juga menegaskan bahwa komunikasi dengan sang ibu selalu berhasil memberikan ketenangan dan solusi yang tepat atas setiap permasalahan yang ia hadapi di Bandung.

"Tapi biasanya kalau aku lagi kebanyakan beban tugas atau lagi merasa sendiri, rasa kangen sama orang tua, itu aku telepon Mama, langsung kabarin. Menurut aku Mama tuh selalu punya jawaban yang benar," sambungnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author