Okupansi Hotel Kota Tuan Rumah Piala Dunia 2026 Belum Penuhi Target

Share

Tingkat hunian hotel di sejumlah kota tuan rumah menjelang pembukaan Piala Dunia 2026 dilaporkan masih berada di bawah ekspektasi akibat kekhawatiran pelaku industri perhotelan yang terlalu optimistis memprediksi lonjakan wisatawan, sebagaimana dilansir dari Detik Travel pada Senin (1/6/2026).

Data dari CoStar menunjukkan angka pemesanan akomodasi di beberapa lokasi penyelenggaraan bahkan lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Penurunan tingkat hunian terjadi di Vancouver yang mencatat okupansi sebesar 39 persen untuk tanggal pertandingan dari sebelumnya 53 persen, sementara Boston berada di angka 32 persen dari sebelumnya 44 persen.

Melalui laporan New York Post, wilayah Kota New York juga belum menerima dampak signifikan dari laga Brasil melawan Maroko di New Jersey pada 13 Juni, dengan okupansi hotel yang tertahan di angka 31 persen dibanding 43 persen pada tahun lalu.

Survei American Hotel & Lodging Association terhadap hotel di 11 kota tuan rumah mengungkapkan bahwa 80 persen pelaku industri mengonfirmasi pemesanan kamar masih di bawah proyeksi awal akibat kendala visa, situasi geopolitik, serta pembatalan blok kamar oleh FIFA.

Rendahnya angka pemesanan akomodasi pada pertandingan putaran awal turnamen akbar tersebut diperkirakan terjadi karena daya tarik laga yang belum maksimal.

"Untuk pertandingan putaran awal, ada kemungkinan daya tariknya tidak sebesar yang diharapkan dan itu berdampak pada rendahnya okupansi hotel," kata Jan Freitag, Direktur nasional analitik perhotelan CoStar.

Faktor finansial eksternal seperti tingginya harga tiket pesawat serta inflasi global juga menjadi penyebab utama yang membuat para suporter mempertimbangkan ulang rencana perjalanan mereka.

"Sekarang ada perang yang sedang berlangsung dan harga minyak naik, sehingga tiket pesawat menjadi lebih mahal," ujar Freitag.

Kritik terhadap tingginya harga tiket pertandingan ikut memengaruhi minat penonton, bahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keengganannya untuk membayar USD 1.000 atau sekitar Rp 17 juta demi menyaksikan laga pembuka antara Amerika Serikat melawan Paraguay di Los Angeles.

Di sisi lain, otoritas tertinggi sepak bola dunia tetap mempertahankan kebijakan harga tiket yang telah ditetapkan untuk turnamen ini.

"hot dog dan Coca-Cola"

Meskipun FIFA mengklaim lebih dari 5 juta tiket telah terjual, para ahli menilai kombinasi harga tiket yang tinggi dan penerapan sistem dynamic pricing berisiko menyulitkan suporter biasa untuk menikmati pertandingan secara langsung.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author