Nathan Thomas Raih Rekor Profesor Termuda Guinness World Record

Share

Profesi akademisi kembali mencatatkan sejarah baru melalui sosok Nathan Thomas. Dilansir dari Detikcom, ia resmi memegang rekor sebagai profesor termuda sepanjang sejarah dari Guinness World Record (GWR) usai memulai kariernya di usia 18 tahun 346 hari. Capaian tersebut menggeser rekor dunia sebelumnya yang dipegang oleh Colin Maclaurin sejak tahun 1717.

Kala itu, Colin menjadi profesor laki-laki termuda pada umur 19 tahun, atau sekitar 306 tahun yang lalu. Selain itu, usia Nathan saat meraih gelar profesor tercatat 16 hari lebih muda dibandingkan Alia Sabur. Alia sebelumnya memecahkan rekor sebagai profesor perempuan termuda di usia 18 tahun 362 hari pada 2008 lalu.

Perjalanan akademis Nathan terbilang sangat melesat dibanding anak seusianya. Ia sudah menempuh pendidikan tinggi pada usia 10 tahun melalui program kuliah ganda di Miami Dade College.

Saat menginjak umur 14 tahun, Nathan melanjutkan studinya ke Florida International University. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan jenjang Sarjana dan Magister Teknik Elektro secara bersamaan pada usia 18 tahun dengan predikat Cum Laude. Setelah menuntaskan gelar Magister, Nathan kembali ke Miami Dade College untuk mendedikasikan ilmunya. Pada Agustus 2023, ia mulai mengajar mata kuliah COP 2270:C untuk mahasiswa jurusan teknik.

Meski usia para mahasiswa di kelasnya sebaya dengannya, Nathan tetap tampil percaya diri. Ia memimpin jalannya perkuliahan serta menyampaikan materi komputasi dan pemrosesan data yang rumit. Bagi Nathan, perbedaan usia bukan menjadi penghalang dalam proses belajar mengajar. Seluruh mahasiswa di dalam kelas memiliki tujuan yang sama untuk menimba ilmu.

"Saya hanya fokus untuk melakukan pekerjaan saya dengan baik dan membantu siswa dengan cara apa pun yang saya bisa. Jika seseorang bersedia berusaha, itu (hal) yang benar-benar penting bagi saya," ungkap Nathan dikutip dari laman resmi GWR, Sabtu (1/8/2026). Kecintaan Nathan terhadap dunia pendidikan telah tumbuh sejak kecil, terutama pada bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).

Di antara seluruh cabang ilmu tersebut, matematika menjadi pelajaran yang paling ia gemari. Keberhasilan akademis ini juga dipengaruhi oleh pola didik kedua orang tuanya yang berlatar belakang insinyur. Lingkungan keluarga akademisi membentuk cara berpikir Nathan menjadi lebih terstruktur sejak dini.

"Ibu saya punya cara untuk membuat segala sesuatu terasa sederhana meskipun sebenarnya tidak, dan saya rasa sebagian dari hal itu melekat pada saya lebih dari yang saya sadari saat itu," sampainya.

Metode penyampaian yang sederhana tersebut kini diterapkan Nathan saat mengajar di hadapan para mahasiswanya. Ia merasa puas ketika berhasil memahamkan materi yang dianggap sulit kepada orang lain. "Anda bisa melihatnya terjadi secara langsung, ketika sebuah konsep yang terasa mustahil beberapa menit yang lalu tiba-tiba menjadi masuk akal.

Ini memberikan kepuasan yang berbeda dibandingkan menyelesaikan masalah sendiri, hampir seperti merasakan kembali perasaan itu melalui orang lain," kata Nathan lagi. Saat ini Nathan telah menginjak usia 21 tahun dan terus melanjutkan pendidikannya. Ia sedang menempuh program Juris Doctor di University of Miami School of Law yang ditargetkan rampung pada 2028.

Setelah menyelesaikan studi hukumnya, Nathan berencana berkarier di bidang hukum kekayaan intelektual yang berfokus pada sektor STEM. Ia berpesan agar setiap orang terus tekun menekuni bidang yang disukai.

"Menurut saya, lebih baik mencari tahu apa yang benar-benar cocok untuk Anda dan tetap berpegang pada hal itu, meskipun terasa lambat. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi saya benar-benar percaya hasilnya akan datang seiring waktu jika Anda terus hadir dan berusaha keras," pesan Nathan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author