NASA Pastikan Asteroid 2026 JH2 Melintas Aman Dekat Bumi
Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengonfirmasi objek antariksa Asteroid 2026 JH2 telah melintas dekat Bumi dengan aman tanpa potensi tumbukan berbahaya pada Senin, 18 Mei 2026 pukul 21.23 GMT.
Dilansir dari Teknologi, batuan luar angkasa tersebut melewati Bumi pada jarak sekitar 90.000 kilometer. Jarak perlintasan tersebut setara dengan 0,24 jarak rata-rata dari Bumi ke Bulan.
Data dari Media Indonesia awalnya memperkirakan jarak perlintasan mencapai 2,1 juta kilometer atau 5,5 kali jarak Bumi ke Bulan. Meski demikian, para astronom memastikan peluang tabrakan objek tersebut tetap nol.
Laporan dari IFLScience pada 12 Mei menyebutkan batuan yang masuk kelompok asteroid Apollo ini berukuran sekitar 15 hingga 34 meter. Dimensi tersebut sebanding dengan ukuran meteor Chelyabinsk yang meledak di Rusia pada 2013 silam.
Keberadaan benda langit ini baru berhasil ditemukan pada 10 Mei 2026 oleh para ilmuwan dari observatorium Mount Lemmon dan Farpoint di Amerika Serikat. Sebelum mendekati Bumi, data terkini menunjukkan asteroid tersebut terlebih dahulu melewati Bulan pada jarak sekitar 0,00284 unit astronomi (AU).
Penegasan mengenai status aman dari objek dekat bumi atau near earth object (NEO) ini disampaikan langsung secara resmi melalui laporan tertulis pihak berwenang.
"Jarak tersebut tergolong aman dan tidak memiliki potensi tumbukan dengan bumi dalam waktu dekat," tulis laporan lembaga antariksa tersebut.
Komunitas astronomi global menaruh perhatian besar pada pergerakan benda langit yang melintasi konstelasi Ursa Major dan Leo ini. Tingkat kecerahan objek diperkirakan mencapai magnitudo 11,5 hingga 11,8 saat berada di titik terdekatnya sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.
Masyarakat yang ingin mengamati pergerakan batuan ini memerlukan bantuan teleskop amatir berukuran menengah atau memantau posisinya melalui aplikasi astronomi gratis Sky Tonight. Virtual Telescope Project juga mengumumkan penyiaran langsung proses pengamatan asteroid tersebut.
International Astronomical Union (IAU) menilai aktivitas pengamatan mandiri melalui teknik astrofotografi sangat membantu ilmuwan memperbarui data karakteristik objek dekat bumi. Badan antariksa dunia terus melakukan pemantauan rutin terhadap potensi perubahan orbit akibat pengaruh radiasi matahari maupun gravitasi planet lain.