Narapidana Lapas Sukamiskin Produksi Speedboat Sukaboat Tembus Pasar
Lapas Sukamiskin di Bandung memfasilitasi bimbingan kerja pembuatan speedboat yang diberi merek Sukaboat untuk narapidana. Kegiatan ini berlangsung sejak 2024 dan telah memproduksi lebih dari 25 unit speedboat yang tembus pasar, dilansir dari Detikcom.
Dua hanggar di lapas digunakan untuk proses pembuatan speedboat mulai dari cetak, amplas, las, pembesian hingga finishing. Para narapidana belajar konsep, desain, manajemen produksi, serta keterampilan teknis secara menyeluruh.
Salah satu napi, Wawan, menyatakan setelah setahun bergabung di bengkel Sukaboat, ia telah terlibat dalam pembuatan lima unit speedboat tipe SB6. Ia mengaku memperoleh ilmu baru dan pengalaman kerja yang luas.
"Saya belajar teori-teori soal kapal, jadi makin bertambah wawasan. Saya sudah mengerjakan lima kapal SB6," ujar Wawan.
Wawan juga menyampaikan setiap napi memiliki keahlian yang berbeda-beda, ada yang mahir dalam pencetakan badan kapal, pengecatan, dan pengelasan. Proses pencetakan kapal biasanya selesai dalam satu bulan, namun finishing membutuhkan waktu lebih lama.
"Prosesnya nyetak sebulan juga sudah beres, tapi yang lama proses finishing," tambahnya.
Wawan menerima premi Rp 500 ribu per minggu yang dikumpulkan sebagai bekal saat bebas. Ia dijadwalkan keluar lapas pada 17 September dan berharap dapat bekerja di galangan kapal atau kembali sebagai pekerja honorer di Sukaboat.
Kalapas Sukamiskin, Nanank Syamsudin, menjelaskan ada dua hanggar, satu untuk napi dan satu untuk eks napi yang ingin bekerja kembali. Ia juga berencana mengembangkan koperasi warga binaan dengan Sukaboat sebagai salah satu unit usaha.
"Banyak eks napi yang merasakan manfaat bimbingan kerja dan ingin kembali bekerja secara profesional di lapas," ujar Nanank.
Pengembangan Sukaboat digerakkan oleh Emirsyah Sattar, mantan Direktur Utama Garuda Indonesia yang juga napi kasus korupsi. Ia bersama napi lain yang berkeahlian di bidang desain produk, peraturan kapal, dan pasar modal mengelola proyek ini.
"Dulu main terbang, sekarang main laut. Kita kerahkan keahlian untuk ikut kegiatan bimbingan kerja di Lapas Sukamiskin, yaitu proyek Sukaboat," kata Emir.
Emir menambahkan meskipun ada napi yang awalnya tidak memiliki keahlian kapal, mereka tetap bisa belajar dan bekerja di bengkel Sukaboat.
"From zero pun tetap bisa belajar, tetap bisa bekerja," pungkas Emir.