Myanmar Catat Kenaikan Turis Asing Paruh Pertama 2026 Meski Tantangan Keamanan

Share

Myanmar mencatat 530.973 kedatangan turis asing selama paruh pertama tahun 2026, mengalami peningkatan dari 500.125 pada periode sama tahun sebelumnya, menurut data Kementerian Perhotelan, Pariwisata, dan Kebudayaan, dilansir dari Detik Travel.

Jumlah ini masih jauh di bawah 4,36 juta turis yang tercatat pada 2019 sebelum pandemi dan konflik militer yang melanda negara tersebut. Sebagian besar wilayah Myanmar masih tidak dapat dijangkau oleh turisme arus utama karena kondisi keamanan yang memburuk dan peringatan perjalanan ketat dari negara Barat.

Peningkatan angka kedatangan ini terutama berasal dari negara-negara Asia terdekat seperti China, Thailand, dan Korea Selatan, serta kunjungan bisnis lintas batas, perjalanan keluarga, dan ziarah Buddha. Namun, pemulihan pendapatan pariwisata belum signifikan karena pengunjung regional cenderung berkunjung dengan durasi lebih pendek dan pengeluaran berbeda dibandingkan wisatawan jarak jauh.

Pada 2025, Myanmar menerima 973.263 pengunjung internasional, turun dari sekitar 1,06 juta pada 2024, dengan penurunan terutama karena kedatangan via perbatasan darat yang menurun. Pemerintah menargetkan 1,8 juta pengunjung pada 2026, yang membutuhkan peningkatan signifikan pada paruh kedua tahun ini.

Sistem visa Myanmar berfungsi dengan baik dengan portal eVisa resmi yang memungkinkan masa tinggal hingga 28 hari dengan tarif USD 50. Pemegang eVisa harus masuk melalui bandara atau pos pemeriksaan resmi, dan pemerintah menyarankan penggunaan portal resmi dibandingkan perantara visa tidak resmi.

Untuk perjalanan bisnis, perusahaan harus melakukan penilaian risiko menyeluruh terkait titik masuk, transportasi, akomodasi, dan lokasi pertemuan sebelum keberangkatan karena kondisi dapat berubah meskipun visa sudah diterbitkan.

Hambatan utama dalam perjalanan internasional ke Myanmar bukan ketersediaan penerbangan atau hotel, melainkan keterbatasan asuransi komprehensif. Polis asuransi biasanya mengecualikan perjalanan ke daerah dengan peringatan perjalanan tinggi atau insiden terkait konflik bersenjata dan kerusuhan sipil.

Evakuasi medis juga sulit didapatkan, sementara fasilitas kesehatan lokal terbatas dalam menangani keadaan darurat serius. Operator tur dan manajer perjalanan kini harus memastikan adanya konfirmasi tertulis asuransi dan pemantauan keamanan yang ketat sebagai bagian dari operasi mereka.

Myanmar tetap memiliki daya tarik budaya dan alam, seperti kuil-kuil Bagan, Pagoda Shwedagon di Yangon, dan Danau Inle. Namun, situasi keamanan yang berubah membatasi potensi pariwisata masif seperti sebelumnya.

Kenaikan kedatangan turis regional menunjukkan aktivitas ekonomi pariwisata yang masih berlangsung, tetapi pemulihan penuh masih bergantung pada perbaikan keamanan, akses transportasi, dan pelonggaran peringatan perjalanan internasional.

Hingga kondisi tersebut membaik, Myanmar tetap terbuka secara administratif namun sangat terbatas dalam praktik perjalanan wisata internasional.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author