Muhammad Hafiz Ridwan Pilih Akpol Meski Diterima FK Unair
Muhammad Hafiz Ridwan memilih mengikuti Seleksi Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) 2026 di Semarang, Jawa Tengah, meski sudah diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), dilansir dari Detikcom.
Calon taruna Akpol dari Polda Metro Jaya itu menegaskan siap meninggalkan kursi kuliah kedokteran demi mewujudkan impian menjadi perwira polisi yang sudah tumbuh sejak masa taman kanak-kanak.
"Saya sebenarnya sudah terdaftar sebagai mahasiswa FK Unair. Tapi kalau saya diterima di Akpol, saya akan meninggalkan FK Unair," ujar Hafiz di lokasi seleksi, Sabtu (25/7/2026).
Sulung dari empat bersaudara ini merupakan alumni TK Kemala Bhayangkari 19 Jakarta Selatan dan SD Kemala Bhayangkari 1 Surabaya. Ayahnya adalah perwira polisi yang memulai karier dari jenjang bintara.
Hafiz mengenang, "Saya ini dari kecil kebetulan TK Kemala Bhayangkari 19 Jakarta Selatan, sudah terbiasa suka pakai seragam abu-abu mirip polisi kalau hari tertentu. SD juga saya di SD Kemala Bhayangkari 1 Surabaya. Dan saya pernah ikut kompetisi baris-berbaris polisi cilik, lalu juara II se-Kota Surabaya."
Inspirasi menjadi polisi makin kuat saat melihat ayahnya yang bertugas memberikan konseling dan pendampingan psikologis kepada masyarakat, serta terus menempuh pendidikan hingga meraih gelar doktor.
"Melihat sosok ayah sebagai polisi, perlahan muncul keinginan dalam diri saya untuk jadi polisi. Lihat ayah suka menangani korban bencana dan memberikan konseling, saya melihat pekerjaannya sangat mulia karena menolong orang yang sedang kesusahan. Ayah saya bintara, tapi sekolah terus sampai S3," kata Hafiz dengan bangga.
"S1 dan S2 Ilmu Psikologi, S3 Ilmu Kepolisian. Sekarang Ayah berpangkat AKBP, dinas di Polda Jatim," tambahnya.
Sebelum mantap memilih jalur polisi, Hafiz mengaku pernah bercita-cita menjadi pilot, insinyur teknik sipil, pemain sepak bola, akuntan, hingga dokter. Ibunya dan neneknya sangat berharap ia menjadi dokter.
"Ibu memang maunya saya jadi dokter karena dulu cita-cita ibu juga dokter. Nenek juga ingin saya jadi dokter," ujarnya.
Keinginan menjadi polisi makin kuat saat SMA, di mana Hafiz memanfaatkan waktu luangnya untuk mempersiapkan seleksi Akpol dengan latihan psikologi, jasmani, dan akademik sejak kelas 10.
"Dari kelas 10 saya mulai latihan psikologi, jasmani, dan akademik. Di tingkat panitia daerah saya peringkat 4, tapi di tingkat pusat agak turun. Saya juga tidak tahu kenapa, tesnya terasa sangat sulit," ungkap Hafiz.
"Dari kelas 10 saya latihan jasmani empat kali seminggu, seperti lari dan latihan fisik lainnya. Latihan psikologi tiap libur sekolah. Pas kelas 11 saya full berorganisasi sebagai Ketua OSIS. Baru di kelas 12 saya ikutan bimbingan belajar untuk UTBK dan Akpol," lanjutnya.
Hafiz juga peraih medali emas World Science Environmental and Engineering Competition 2024 dan 2025 kategori daring, namun mengaku tekanan mental seleksi Akpol jauh lebih berat daripada kompetisi ilmiah.
"Kalau olimpiade kita mengejar juara. Kalau di sini kita mengejar cita-cita. Rasanya hidup mati ada di sini, jadi tekanannya jauh lebih besar," katanya.
Ia merasakan peningkatan tingkat kesulitan seleksi pusat dibandingkan daerah, terutama dalam soal matematika yang memerlukan analisis mendalam, bukan hanya hafalan.
"Yang paling terasa itu matematika. Soalnya bukan lagi pertanyaan dasar, tapi lebih banyak pengembangan yang membutuhkan analisis," jelas Hafiz.
Meski sempat kecewa dengan nilai Tes Potensi Akademik (TPA) yang hanya 68, Hafiz bangkit dengan motivasi dari nilai tes jasmani tertinggi se-Polda Metro Jaya, yakni 93,20.
"Kemarin saya sempat kecewa dengan nilai saya. Tapi karena jadwal tes jasmani hanya berselang tiga hari dari akademik, bagaimana caranya saya harus memotivasi diri untuk bangkit. Alhamdulillah, nilai jasmani saya tertinggi se-Polda Metro Jaya.
Nilai kesamaptaan saya 93,20. Itu yang buat semangat saya naik lagi," pungkasnya.