MPR Sosialisasikan Sejarah dan Makna Pancasila di Bandung

Share

MPR RI melalui Wakil Ketua Badan Sosialisasi, Abidin Fikri, menyosialisasikan sejarah dan makna Pancasila kepada 250 guru PAUD dari Bandung Raya, Garut, dan Sumedang pada Sabtu (15/8/2026) di Bandung.

Abidin menjelaskan bahwa sebelum kemerdekaan, pendiri bangsa dalam BPUPKI membahas dasar negara mulai 29 Mei hingga 1 Juni 1945. Soekarno mengusulkan lima prinsip dasar negara yang disebut Pancasila, yakni Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme, Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

"Inilah gagasan Bung Karno yang diterima BPUPKI dan disempurnakan Panitia Sembilan menjadi Piagam Jakarta pada 22 Juni. Namun pada 17 Agustus 1945 sore, sila pertama versi Piagam Jakarta tentang Ketuhanan dengan kewajiban syariat Islam bagi pemeluknya ditentang masyarakat Indonesia timur. Sehingga pada penetapan konstitusi 18 Agustus 1945, sila pertama berubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa," ujar Abidin, dilansir dari Detikcom.

Abidin menilai Nahdlatul Ulama tepat menyebut Pancasila sebagai kalimatun sawa atau kesepakatan, mengingat proses panjang pembentukan yang melibatkan berbagai kelompok. Ia mengajak bangsa Indonesia menjaga dan merawat warisan pendiri bangsa serta mempertahankan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Bentuk negara NKRI pernah diganti menjadi RIS sesuai keputusan Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 1949, tapi ditentang M. Natsir melalui mosi Integral Natsir di parlemen RIS pada 3 April 1950. Usulan tersebut diterima sehingga bentuk negara kembali ke NKRI dan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 tetap berlaku," ungkap Abidin.

Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Abraham Liyanto, menambahkan bahwa pembentukan Empat Pilar MPR RI melalui tahapan sulit dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari tidak mudah. Oleh karena itu, MPR bekerjasama dengan berbagai pihak, termasuk PP Persatuan Islam Istri, untuk sosialisasi berbasis komunitas.

"Harapannya, kesepakatan para pendiri bangsa dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," ujar Abraham.

Abraham menggambarkan Pancasila sebagai fondasi kuat seperti rumah yang kokoh sehingga struktur di atasnya dapat terbangun rapi dan tahan terhadap berbagai cobaan, termasuk gempa.

"Kita sudah berpengalaman menghadapi berbagai percobaan dalam berbangsa dan bernegara. Dengan fondasi yang kuat, kita semua selamat. Mari jaga dan lestarikan Empat Pilar dengan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari," pungkas Abraham.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author