Moooi Pustaka Terjemahkan Novel Baron Bagge Karya Alexander Lernet-Holenia
Karya sastra dunia milik penulis Alexander Lernet-Holenia kini resmi diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk pertama kalinya. Langkah ini diambil oleh Penerbit Moooi Pustaka, sebuah penerbit yang diinisiasi oleh penulis Eka Kurniawan dengan tujuan memperkenalkan karya sastra internasional dari bahasa aslinya.
Dilansir dari Detikcom, novel pertama Lernet-Holenia yang bertajuk Baron Bagge menjadi karya yang dipilih untuk diterjemahkan. Proses penerjemahan buku ini dilakukan langsung dari bahasa Jerman oleh Tiya Hapitiawati, mengisahkan tentang pengalaman ganjil tokoh Baron Bagge di tengah kecamuk perang yang mengaburkan batas antara mimpi dan kenyataan.
Penulis Alexander Lernet-Holenia sendiri merupakan figur yang dikagumi oleh sastrawan ternama Jorge Luis Borges. Pengalaman Lernet saat bertugas di kavaleri Austro-Hungaria selama Perang Dunia I menjadi pengaruh besar dalam membentuk gaya fiksi unik pada karya-karyanya.
Dalam acara diskusi yang berlangsung di Kedutaan Austria, Menteng, Jakarta Pusat, pada Kamis (21/5/2026), Tiya Hapitiawati membagikan pengalamannya selama menggarap terjemahan novel tersebut. Menurutnya, tantangan terbesar adalah menjaga relevansi konteks sejarah dalam narasi.
"Proses penerjemahanya harus tetap membangun jembatan antara masa lalu dan masa kini," ujarnya.
Akademisi sekaligus pengajar bahasa Jerman dari Universitas Indonesia, Lily Tjahjandari, turut memberikan bedah estetika terhadap kekhasan penulisan Lernet. Ia menyoroti bagaimana sang penulis mengolah tema utama dalam novel Baron Bagge.
"Tema sentral novel ini adalah batas yang kabur antara kehidupan dan kematian," lanjutnya.
Lily juga menambahkan bahwa narasi novel ini membuka ruang multitafsir bagi pembaca, terutama dalam menentukan keabsahan peristiwa yang dialami tokoh utama.
"Dalam karya ini tidak secara eksplisit mengonfirmasi apakah Bagge berjuang dalam bencana militer atau hanya membayangkan berjuang hingga momen terakhir," lanjutnya.
Karya ini dipandang sebagai refleksi mendalam mengenai trauma perang yang dihadapi oleh sebuah generasi, sekaligus bagaimana mereka memaknai cinta. Agenda diskusi tersebut kemudian diakhiri dengan sesi pembacaan beberapa penggalan novel terjemahan Baron Bagge oleh Eka Kurniawan.