Mojtaba Khamenei Peringatkan AS Terkait Pelanggaran Perjanjian

Share

Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mengirimkan pesan berisi peringatan keras terhadap Amerika Serikat (AS). Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump sempat mengklaim bahwa pemimpin Iran tersebut telah tiada.

Dilansir dari Detikcom, Mojtaba Khamenei dilaporkan tidak terlihat di hadapan publik selama berbulan-bulan. Pihak AS meyakini bahwa Khamenei mengalami luka dan cacat fisik yang parah akibat serangan udara gabungan AS dan Israel.

Saat serangan udara tersebut terjadi, Mojtaba Khamenei dikabarkan berada di kediaman yang sama dengan ayahnya. Dirinya dilaporkan selamat karena sedang berada di ruangan yang berbeda.

Sejak peristiwa tersebut, Mojtaba Khamenei belum pernah muncul kembali di depan umum. Ia juga belum tampil di publik sejak resmi dilantik sebagai pemimpin tertinggi Iran pada Maret lalu.

Spekulasi mengenai kondisi Mojtaba Khamenei terus bergulir setelah ia tidak menghadiri upacara pemakaman ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Ia baru merilis pernyataan tertulis setelah prosesi pemakaman sang ayah selesai pada 9 Juli 2026.

"Pembalasan ini adalah kehendak bangsa kita dan harus dilaksanakan," katanya dalam surat yang ditandatangani pada hari Jumat (10/7).

Situasi tersebut kemudian memicu Donald Trump untuk mengeluarkan pernyataan mengenai kondisi Mojtaba Khamenei. Trump menyebut bahwa pemimpin tertinggi Iran itu kemungkinan besar sudah meninggal dunia.

"Mereka tidak memiliki Angkatan Laut. Mereka tidak memiliki Angkatan Udara. Semuanya sudah lenyap.

Pertahanan anti-pesawat mereka sudah musnah. Para pemimpin mereka semuanya telah tewas," ujar Trump dalam wawancara dengan media AS Fox News, seperti dilansir Anadolu Agency.

Dalam wawancara itu, Trump sempat keliru menyebut nama mendiang pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sebagai 'Khomeini', yang merupakan pemimpin revolusi Iran yang telah wafat pada tahun 1989.

"Para pemimpin terbaik mereka telah tewas. Mereka sudah habis. Khomeini sudah tiada," kata Trump, yang diduga salah menyebut nama mendiang Ali Khamenei yang tewas akibat gelombang serangan awal AS-Israel pada 28 Februari lalu.

"Putranya, 90 persen telah tiada," klaim Presiden AS itu, merujuk pada Mojtaba, pemimpin tertinggi Iran saat ini yang merupakan putra mendiang Ali Khamenei.

Melalui pesan terbarunya, Mojtaba Khamenei memperingatkan bahwa AS akan menerima pelajaran yang tidak terlupakan dari Teheran dan sekutu regionalnya. Ia menuduh Washington telah berulang kali melanggar nota kesepahaman (MoU) antar kedua negara.

Seperti dilansir Al-Jazeera, pernyataan tertulis dari Mojtaba Khamenei tersebut dibacakan melalui saluran televisi pemerintah Iran pada Sabtu (18/7). Ia menegaskan bahwa pelanggaran tersebut membuat tanda tangan Trump menjadi tidak sah.

"Pelanggaran berulang terhadap perjanjian oleh Setan Besar sehubungan dengan kesepakatan tersebut sekali lagi membuktikan kepada semua orang bahwa tanda tangan Presiden Amerika sekarang sama sekali tidak berharga dan tidak sah, dan bahwa intimidasi, hegemoni, dan kebiadaban adalah komponen yang tak terpisahkan dari keyakinan dan doktrin Amerika," bunyi pernyataan tersebut.

"Sekrud musuh Amerika berusaha untuk memicu perang dan menderita biaya yang lebih berat dan penghinaan lebih lanjut, mereka harus tahu bahwa bangsa Iran yang terkasih dan Front Perlawanan memiliki pelajaran yang tak terlupakan bagi mereka," tambahnya.

Hubungan antara AS dan Iran kian memanas setelah kedua negara saling meluncurkan serangan pada pekan ini. Militer AS dilaporkan membidik sejumlah infrastruktur sipil di Iran, termasuk jalur kereta api, jembatan, dan pabrik desalinasi air.

Pemerintah Teheran membalas tindakan tersebut dengan menyerang infrastruktur sipil di Kuwait, yang menjadi negara penampung bagi pasukan militer AS. Dampak dari serangan ini membuat pihak Kuwait mengimbau warganya untuk menghemat penggunaan listrik. Selain itu, Iran juga menggempur pangkalan militer AS di Yordania yang mengakibatkan dua tentara AS tewas.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author