Mogok Kerja Pengatur Lalu Lintas Udara Lumpuhkan Penerbangan Belgia

Share

Aksi mogok kerja mendadak oleh petugas pengatur lalu lintas udara di lembaga Skeyes menghentikan seluruh aktivitas penerbangan dari dan ke Belgia pada Selasa (2/6/2026) mulai pukul 14.00 waktu setempat. Gangguan massal yang dikonfirmasi oleh otoritas Bandara Brussel ini dijadwalkan berlangsung hingga pukul 19.00 malam nanti.

Skeyes bertanggung jawab mengelola lalu lintas udara di bandara-bandara Belgia serta ruang udara hingga ketinggian 7.500 meter. Sementara itu, pesawat yang terbang di atas ketinggian tersebut dikendalikan oleh Eurocontrol dan tidak terdampak oleh aksi ini. Pemogokan ini dipicu oleh ketidaksepakatan dalam negosiasi antara manajemen dan serikat pekerja terkait pusat kendali digital baru untuk Bandara Liège dan Charleroi yang akan ditempatkan di Namur.

Sekitar 200 penerbangan di Bandara Brussel terpaksa dibatalkan, dan pihak pengelola meminta penumpang dengan jadwal penerbangan selama masa mogok untuk tidak datang ke bandara. Maskapai penerbangan Ryanair turut membatalkan 100 penerbangan dari dan ke Brussel serta Charleroi, yang berdampak langsung pada perjalanan 20.000 penumpang. Pembatalan massal juga melanda bandara-bandara lain seperti Charleroi, Ostend-Bruges, Antwerp, dan Liège.

Pihak maskapai kini berupaya menangani situasi darurat akibat aksi industri yang tidak terencana tersebut.

"Our teams are doing everything they can to find solutions for our travellers," kata Brussels Airlines.

Maskapai tersebut terpaksa mengalihkan sejumlah penerbangan internasional yang menuju Belgia ke kota-kota lain.

"We deeply regret the disruption these actions are causing our passengers and staff, especially as the actions are taking place without prior notice. We understand the inconvenience and uncertainty this creates for thousands of travellers," ujar Brussels Airlines.

Beberapa jadwal penerbangan maskapai ini dilaporkan baru bisa diberangkatkan setelah pukul 21.00 malam. Di sisi lain, keresahan mendalam juga disuarakan oleh internal staf pengatur lalu lintas udara terkait kesepakatan kerja dan kondisi sistem baru.

"On Monday, a preliminary agreement was reached with one union secretary," tutur seorang pengatur lalu lintas udara yang memilih untuk tidak disebutkan identitasnya.

Ia menambahkan bahwa draf kesepakatan tersebut belum pernah disampaikan ataupun mendapat dukungan dari para anggota di lapangan.

"The text was never put to the rank and file," kata pengatur lalu lintas udara tersebut.

Kondisi kerja dan keamanan operasional di lokasi baru menjadi poin utama penolakan dari para staf Skeyes.

"Nor is that text supported by the rank and file," ucap pengatur lalu lintas udara tersebut.

Mereka menilai pemindahan lokasi kerja ke Namur memberikan dampak sosial yang besar, sementara langkah transisi dari manajemen dianggap tidak memadai.

"The new digital system we are supposed to start working with is not secure enough," ujar pengatur lalu lintas udara tersebut.

Selain masalah digitalisasi, masalah lama seperti pengaturan jadwal giliran kerja dan ketimpangan gaji antar-menara kontrol bandara juga belum terselesaikan.

"The fact that we have to start working in Namur also has a major social impact on the staff. The transitional measures proposed by Skeyes are insufficient. In addition, there are a number of long-standing issues that remain unresolved: for instance, there is a problem with the scheduling of work shifts, and staff in the control towers at the various airports are not paid equally," kata pengatur lalu lintas udara tersebut.

Di masa depan, seluruh staf dijadwalkan berbasis di pusat kendali lalu lintas udara digital baru di Namur, namun mereka tetap memegang tanggung jawab penuh terhadap bandara asal masing-masing.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author