Misteri Angka 05 di Teks Proklamasi Indonesia Terungkap

Share

Pencantuman angka 05 pada naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia kerap memicu tanda tanya. Penulisan tahun tersebut bukanlah bentuk kekeliruan atau salah ketik saat perumusan naskah.

Dikutip dari Detik Travel, penanggalan tersebut merujuk pada kalender Jimmu yang berlaku semasa pendudukan Jepang. Sistem penanggalan kekaisaran Jepang ini dihitung sejak tahun naik takhta Kaisar Jimmu pada 660 SM.

Edukator Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Fajar Sunandar, menjelaskan bahwa penggunaan kalender Jepang berlaku luas di wilayah Asia Tenggara. Hal itu disampaikan Fajar saat dijumpai di Munasprok, Selasa (18/8/2026).

"Itu karena ketika zaman penjajahan Jepang, khusus di daerah Asia Tenggara yang memang mayoritas saat itu di bawah pendudukan Jepang itu semuanya hampir menerapkan kalender Jepang (Jimmu)," ujar Fajar Sunandar.

Tahun 1945 dalam kalender Masehi bertepatan dengan tahun 2605 berdasarkan kalender Jimmu. Oleh karena itu, angka 05 merupakan bentuk penulisan singkat dari tahun 2605.

Penggunaan sistem penanggalan tersebut tidak hanya diterapkan pada teks proklamasi semata. Dokumen resmi hingga surat kabar yang terbit pada masa itu juga diwajibkan menggunakan kalender Jimmu.

"Lazim, saat jaman Jepang itu semua hampir di semua dokumen termasuk surat kabar (menggunakan kalender Jimmu)," kata Fajar.

Selama masa pendudukan, penggunaan kalender Gregorian atau Masehi dihentikan sementara oleh otoritas Jepang. Sementara itu, kalender lain seperti Hijriah tetap digunakan masyarakat sebagai pendamping.

"Karena memang saat itu tidak berlaku kalender Gregoriannya, kalender Gregoriannya di-stop dulu, semuanya pakai kalender Jimmu," ujar Fajar.

Pencantuman angka tahun tersebut juga memiliki kaitan erat dengan lokasi perumusan naskah proklamasi. Soekarno, Mohammad Hatta, dan Achmad Soebarjo merumuskan teks tersebut di rumah Laksamana Tadashi Maeda pada 17 Agustus 1945 dini hari.

Laksamana Maeda dinilai memberikan kontribusi penting karena menyediakan kediamannya sebagai tempat berdiskusi para tokoh nasional. Bung Karno tetap ingin memasukkan unsur kontribusi tersebut ke dalam naskah melalui penulisan tahun.

"Bisa dibilang sebetulnya Bung Karno masih tetap ingin menganggap kontribusi dari Bapak Maeda ini dimasukkan ke dalam satu buah naskah, ya walaupun mungkin hanya tahunnya saja sih sebetulnya," tambah Fajar.

Teks proklamasi asli dirumuskan Soekarno sebelum akhirnya diketik oleh Sayuti Melik dan ditandatangani oleh Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia. Keberadaan angka 05 menjadi jejak sejarah dinamika penanggalan pada masa peralihan kemerdekaan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author