Mirza Fakhrul Islam Alamgir Dilantik Jadi Presiden Bangladesh
Politikus veteran Mirza Fakhrul Islam Alamgir resmi dilantik sebagai Presiden ke-23 Bangladesh di Bangabhaban, Dhaka, pada Jumat (21/8/2026). Pengambilan sumpah jabatan dipimpin oleh Plt Ketua Jatiya Sangsad, Kayser Kamal.
Pelantikan mantan Sekretaris Jenderal partai berkuasa Bangladesh Nationalist Party (BNP) tersebut dihadiri oleh Perdana Menteri Tarique Rahman, Pemimpin Oposisi Shafiqur Rahman, mantan Ketua Penasihat Muhammad Yunus, jajaran menteri kabinet, serta pimpinan tinggi militer.
Alamgir mengamankan kursi kepresidenan setelah memenangkan pemungutan suara di parlemen pada Kamis (20/8/2026). Ia meraih 255 suara, mengalahkan pesaingnya Oli Ahmed dari partai oposisi Jamaat-e-Islami yang memperoleh 88 suara dari total 349 anggota parlemen yang memiliki hak pilih.
Pemilihan ini menjadi pemungutan suara presiden secara langsung pertama yang diperebutkan di parlemen sejak Oktober 1991. Proses pemilu presiden diselenggarakan setelah mantan Presiden Mohammed Shahabuddin mengundurkan diri pertengahan bulan lalu akibat tekanan politik dan alasan kesehatan.
Setelah resmi menjabat sebagai kepala negara, sosok berusia 78 tahun tersebut langsung melantik lima anggota baru dalam jajaran kabinet. Langkah ini membuat jumlah anggota kabinet pemerintahan Perdana Menteri Tarique Rahman bertambah menjadi 55 orang.
Sebelum menghadiri upacara pelantikan, Alamgir menyempatkan diri mendatangi makam pendiri BNP Ziaur Rahman dan mantan Perdana Menteri Khaleda Zia untuk memanjatkan doa. Mantan menteri muda pertanian tersebut tercatat memulai karier politiknya sebagai aktivis mahasiswa berhaluan kiri sebelum bergabung dengan BNP pada awal 1990-an.
Meskipun jabatan presiden di Bangladesh sebagian besar bersifat seremonial, posisi ini memegang peranan krusial sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata serta berwenang menunjuk Perdana Menteri dan Ketua Mahkamah Agung dalam situasi krisis politik.