Militer Myanmar Kerahkan Pasukan untuk Bersihkan Kawasan Ekonomi Khusus Dawei
Militer Myanmar mengerahkan ratusan tentara untuk mengosongkan secara paksa wilayah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Dawei yang didukung Rusia di selatan negara itu, dengan sejumlah desa dibakar dan wilayah diisolasi, menurut laporan dari kelompok perlawanan dan aktivis lokal, seperti dilansir dari Detikcom.
Operasi militer ini berlangsung di sekitar KEK Dawei, yang mencakup proyek pembangunan pelabuhan laut dalam dan pembangkit listrik di pesisir Laut Andaman, sebagai upaya menghidupkan kembali proyek strategis tersebut sebagai jalur alternatif dari Selat Malaka.
Sejak Juli 2026, militer Myanmar mengirim sekitar 700 tentara ke wilayah Tanintharyi yang berbatasan dengan Thailand. Pengerahan pasukan itu memicu pertempuran dengan kelompok perlawanan lokal yang akhirnya mundur.
"Militer terus menggerakkan pasukannya dan melakukan operasi pembersihan wilayah. Sejumlah desa dan rumah telah dibakar," kata Saw Dah Ko dari People's Defence Force Wilayah Tanintharyi.
Seorang anggota kelompok perlawanan dari Batalion No. 1 Distrik Dawei menyatakan pasukan militer membakar rumah di tiga desa dan membunuh tiga pekerja kemanusiaan yang membantu pengungsi.
"Mereka ingin menjalankan KEK Dawei, jadi mereka ingin membersihkan wilayah ini," ujar anggota kelompok perlawanan tersebut yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Kelompok sipil MAGGA Initiative menyatakan tiga pekerja kemanusiaan itu ditahan dan dibunuh setelah bertemu pasukan militer di Kotapraja Yebyu pada 9 Juli 2026.
Operasi militer semakin intensif setelah Wakil Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar Kyaw Swar Lin berkunjung akhir Juni dan meminta perlindungan proyek strategis termasuk Dawei.
Menurut organisasi pemantau konflik ACLED, sejak kunjungan tersebut sekitar 700 tentara menyerbu desa di sekitar Dawei dan membunuh warga sipil.
Serangan udara dan angkatan laut memperkuat operasi militer dan membuat kelompok perlawanan lokal kewalahan, kata Saw Dah Ko dan aktivis lokal lainnya.
"Mereka mendapat dukungan angkatan laut lalu melancarkan serangan ke desa-desa di wilayah proyek pelabuhan laut dalam," kata Min Lwin Oo dari Democracy Movement Strike Committee.
"Ketika mereka melancarkan serangan itu, bentrokan sering terjadi," tambahnya.
Operasi ini bagian dari strategi militer Myanmar untuk merebut kembali wilayah strategis dan perbatasan yang hilang sejak kudeta 2021, yang memicu perang saudara dengan korban sekitar 100.000 orang dan 3,5 juta pengungsi.
Proyek Dawei yang diluncurkan 2008 dan sempat terhenti 2013 karena penolakan masyarakat dan kekurangan dana, kini dihidupkan kembali dengan dukungan Rusia, sekutu utama pemerintah militer Myanmar.
Kepala Pemerintahan Wilayah Tanintharyi Zaw Naing Oo mengatakan proyek ini bisa mempercepat pengiriman barang empat hingga enam hari dibanding lewat Selat Malaka.
Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin menyatakan perusahaan Rusia ingin bekerja sama dengan KEK Dawei untuk meningkatkan perdagangan dan menciptakan lapangan kerja, termasuk sektor usaha kecil dan menengah.
Sejumlah perusahaan Rusia juga mempertimbangkan investasi di proyek pembangkit listrik, menurut sumber Reuters.
Seorang sumber menyebut proyek Dawei memberi Rusia akses pasar lebih besar di Asia Tenggara dan pijakan pelabuhan di Samudra Hindia, namun menilai risiko di Myanmar masih tinggi dan investasi harus didukung konektivitas dengan Thailand agar layak secara ekonomi.