Militer AS Bantah Kondisi Buruk di Kapal Induk USS Abraham Lincoln di Timur Tengah
Militer Amerika Serikat membantah laporan kondisi buruk di atas kapal induk USS Abraham Lincoln yang sedang bertugas di Timur Tengah. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan 84,4% awak kapal memilih perpanjangan masa dinas setelah kontrak berakhir, menurut dilansir dari Detikcom.
CENTCOM menegaskan para pelaut dan marinir tetap bertugas meski sudah lebih dari 260 hari di laut. Mereka membantah kabar adanya awak kapal yang meninggal dunia, dengan seorang pelaut yang jatuh ke laut pada 3 Agustus berhasil diselamatkan dengan cepat dan mendapatkan perawatan.
"Pemberitaan yang keliru dan meluas mengenai penugasan bersejarah USS Abraham Lincoln merupakan bentuk ketidakadilan terhadap prajurit kami dan keluarga mereka," kata CENTCOM.
Media Iran melaporkan tujuh orang tewas akibat bentrokan di atas kapal induk dan menyebut ketegangan di antara awak kapal tinggi. Sementara itu, Senator Connecticut Richard Blumenthal meminta penjelasan pemerintah terkait dukungan bagi awak kapal, mengutip laporan kurangnya pasokan, masalah sanitasi, dan memburuknya kesehatan mental.
Laporan menyebut kekurangan sabun, toilet tersumbat, dan gangguan pengiriman surat yang menyebabkan paket terlambat berbulan-bulan. Angkatan Laut AS menegaskan tidak ada peningkatan percobaan bunuh diri, namun menolak memberikan data rinci demi alasan keamanan dan privasi.
Senator Chuck Schumer menyerukan pencopotan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, menuduhnya tidak mampu menjalankan tugas sehingga membebani para pelaut.
Dalam kebijakan baru, Presiden Donald Trump mengizinkan penggunaan kapal buatan luar negeri dan memerintahkan penghentian sistem peluncur pesawat elektromagnetik (EMALS) pada kapal induk kelas Gerald R. Ford, menggantinya dengan ketapel uap tradisional.
Trump mengkritik sistem EMALS sebagai mahal dan rumit. "Mereka menghabiskan miliaran dolar untuk ketapel listrik dan sistem itu tidak bagus. Tidak sebaik yang seharusnya dan terlalu rumit," ujar Trump.
Perusahaan pembuat EMALS memperingatkan perubahan desain saat proyek sudah hampir 50% selesai dapat menimbulkan kenaikan biaya besar dan keterlambatan proyek. Memo Trump juga membuka peluang bagi galangan kapal asing untuk membangun hingga dua kapal di galangan mereka guna mempercepat pemenuhan kebutuhan Angkatan Laut AS.
USS Abraham Lincoln meningkatkan kehadiran militer AS di Timur Tengah setelah dipindahkan dari Laut China Selatan pada Januari. Kapal ini beroperasi di Laut Arab sebagai bagian dari blokade laut untuk mencegah kapal masuk atau keluar dari pelabuhan Iran setelah serangan militer AS dan Israel pada 28 Februari.
USS George Washington dari Pasifik bergerak menuju Timur Tengah dan terlihat melintasi Selat Singapura dan Selat Malaka menuju Samudra Hindia, berpotensi menggantikan USS Abraham Lincoln. Jika demikian, sementara waktu kawasan Pasifik bisa tidak memiliki kehadiran kapal induk AS selama periode yang belum ditentukan.