Mikel Arteta Ubah Pendekatan Taktik Arsenal Demi Akhiri Puasa Gelar

Share

Manajer Arsenal Mikel Arteta berhasil membuktikan komitmennya dengan menyudahi penantian trofi Liga Premier selama 22 tahun setelah Manchester City kalah di markas Bournemouth pada Selasa, 19 Mei 2026.

Gelar juara ini diraih setelah melalui proses panjang dan dukungan penuh dari dewan direksi klub dalam bursa transfer, meskipun Arsenal sempat beberapa kali gagal pada momen-momen krusial di musim-musim sebelumnya.

Mantan bek Manchester United, Gary Neville, sempat menyoroti kesabaran manajemen Arsenal terhadap sang pelatih dalam komentarnya di Sky Sports setahun yang lalu pada waktu yang sama.

"Kami mengira masa-masa di mana seseorang bisa mendapatkan kesabaran semacam itu sudah berlalu," kata Gary Neville.

Pihak manajemen klub dinilai mengambil keputusan tepat untuk memercayai komitmen Arteta yang sejak awal menyatakan hanya membutuhkan sedikit waktu guna membangun kembali fondasi tim.

Legenda Arsenal, Thierry Henry, juga sempat mengakui adanya keraguan yang membayangi internal klub terkait proyek jangka panjang yang diusung oleh Arteta tersebut.

"Saya akan jujur, pada satu titik saya mempertanyakan semua pembicaraan tentang 'Percayalah pada proses' ini. Saya ingin tahu, 'Ke mana kita akan pergi?'" cetus Thierry Henry di Sky.

Kekhawatiran sempat memuncak saat Arsenal kalah di kandang dari Bournemouth pada 11 April, namun dukungan suporter di Stadion Emirates tetap solid hingga mampu mengubah atmosfer klub sejak keterpurukan pada Desember 2019.

"Gambar itu, suasana stadion, penonton (dengan) 50 persen stadion kosong benar-benar membekas dalam benak saya," kenang Mikel Arteta saat pertama kali datang sebagai manajer.

Kondisi eksternal kemudian menjadi semakin menantang bagi klub asal London Utara tersebut akibat merebaknya pandemi Covid-19 yang mengosongkan seluruh isi stadion.

"Saya berkata, ‘Dengan kondisi ini, tidak ada proyek. Ini tidak akan berhasil.’" tutur Mikel Arteta.

Kesulitan tersebut memaksa seluruh elemen tim berjuang ekstra keras dari bawah demi mengembalikan kejayaan klub di kompetisi domestik.

"Sayangnya, situasinya memburuk dengan sangat cepat karena kemudian Covid melanda dan alih-alih 50%, kami malah tidak memiliki penonton sama sekali. Jadi, itu membuat pekerjaan semakin sulit. Setelah itu, kami harus membangun kembali semuanya." tambah Mikel Arteta.

Evaluasi terhadap performa tim menunjukkan adanya pergeseran strategi yang signifikan dalam tiga musim terakhir, di mana Arsenal kini menerapkan pendekatan pragmatis demi mengamankan kemenangan.

"Ketika awalnya terasa lebih sulit, maka akan lebih menyenangkan melihat transformasi dan kegembiraan di antara para pendukung. Itu adalah sesuatu yang indah untuk disaksikan." kata Mikel Arteta sebelum laga melawan Burnley.

Gaya permainan Arsenal saat ini dinilai lebih menyerupai pendekatan taktis Jose Mourinho dibandingkan Pep Guardiola melalui efektivitas bola mati dan manajemen waktu permainan.

Pendekatan pragmatis ini menuai kritik tajam dari manajer Brighton, Fabian Hurzeler, setelah kekalahan timnya dari Arsenal di Stadion Amex pada bulan Maret lalu.

"Saya tidak akan pernah menjadi manajer yang mencoba menang dengan cara seperti itu." kritik Fabian Hurzeler dalam konferensi pers pasca-pertandingan.

Hurzeler mendesak otoritas Liga Premier dan wasit untuk bersikap lebih tegas dalam membatasi taktik mengulur waktu yang diperagakan oleh para pemain Arsenal.

"Tentu saja, setiap tim akan mengatur dan membuang-buang waktu, tetapi harus ada batasnya dan batas itu harus ditetapkan oleh Liga Premier dan wasit. Saat ini, Arsenal hanya melakukan apa yang mereka inginkan." ketus Fabian Hurzeler.

Durasi bersih pertandingan yang berkurang akibat taktik tersebut dianggap merugikan penonton netral yang mengharapkan permainan menghibur.

"Ke mana ini akan berlanjut di masa depan? Itulah pertanyaanku. Dalam satu pertandingan kamu bermain 60 menit bersih, lalu kamu bermain melawan Arsenal dan hanya 50 menit. Selisih 10 menit dan inilah yang dibayar oleh para pendukung." keluh Fabian Hurzeler.

Ketegangan taktik ini memicu perdebatan mengenai kepuasan para penikmat sepak bola terhadap kualitas permainan yang disuguhkan di lapangan.

"Jika saya bertanya kepada semua orang di ruangan ini, 'Apakah Anda benar-benar menikmati pertandingan sepak bola ini?' Saya yakin jika mungkin ada satu orang yang mengangkat tangannya, itu karena dia adalah penggemar berat" pungkas Fabian Hurzeler.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author