Meta PHK 8.000 Karyawan dan Alihkan Posisi Demi Kecerdasan Buatan

Share

Meta melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 8.000 karyawan global secara mendadak pada Rabu, 21 Mei 2026, demi mempercepat fokus pembangunan alur kerja berbasis kecerdasan buatan.

Raksasa media sosial tersebut memangkas sekitar 10 persen dari total tenaga kerjanya, membatalkan 6.000 lowongan pekerjaan, serta memindahkan 7.000 pegawai lain ke tim baru yang berfokus pada kecerdasan buatan atau AI.

Proses pemecatan dilakukan dengan pola meminta karyawan bekerja dari rumah terlebih dahulu, kemudian email pemberitahuan PHK dikirimkan secara bertahap berdasarkan zona waktu masing-masing wilayah termasuk di Singapura.

Chief People Officer Meta, Janelle Gale, menjelaskan perihal pemindahan ribuan karyawan ke inisiatif baru untuk membentuk alur kerja AI serta mengeliminasi peran manajerial melalui sebuah memo internal perusahaan.

"Banyak pemimpin akan mengumumkan perubahan di dalam organisasi," tulis Janelle Gale dalam memo tersebut sebagaimana dilansir dari Reuters.

Janelle Gale menambahkan bahwa struktur organisasi baru akan beroperasi dengan sistem yang lebih ramping untuk meningkatkan kecepatan gerak operasional perusahaan.

"Saat para pemimpin organisasi mengerjakan perubahan tersebut, banyak dari mereka memasukkan prinsip-prinsip desain asli AI ke dalam struktur organisasi baru mereka. Sekarang kita berada pada tahap di mana banyak organisasi dapat beroperasi dengan struktur yang lebih datar dengan tim-tim kecil yang terdiri dari pods/cohort yang dapat bergerak lebih cepat dan dengan kewenangan yang lebih besar," kata Janelle Gale dalam tulisan dokumen internal tersebut.

Langkah efisiensi ini memicu ketegangan internal karena Meta mengadopsi alat pemantau Model Capability Initiative yang merekam pergerakan mouse dan aktivitas mengetik karyawan untuk melatih model AI, hingga memicu petisi penolakan dari seribu lebih pegawai.

Wakil Presiden Production Engineering Meta, Peter Hoose, menyatakan bahwa langkah agresif ini diambil di tengah persaingan ketat pengembangan teknologi AI generatif dengan kompetitor seperti OpenAI, Google, dan Anthropic.

"pekerjaan, infrastruktur, dan produk kami pada dasarnya sedang berubah akibat percepatan AI yang terus berlangsung", ujar Peter Hoose dalam memo internal yang dilihat oleh The Guardian.

Peter Hoose menilai restrukturisasi ini menjadi pembuktian kemampuan terbaik dari tim engineering perusahaan.

"kecepatan pembangunan yang kami lakukan belum pernah terjadi sebelumnya, dan inilah jenis tantangan yang mendefinisikan kemampuan terbaik kami," ucap Peter Hoose melanjutkan.

Sementara itu, CEO Meta Mark Zuckerberg berupaya menenangkan situasi internal perusahaan yang gelisah akibat rangkaian restrukturisasi dalam 18 bulan terakhir dan memastikan tidak ada pemangkasan massal lanjutan.

"Saya akan menegaskan bahwa kami tidak akan melakukan PHK massal di seluruh perusahaan lagi tahun ini," kata Mark Zuckerberg seperti dikutip dari Financial Times.

Mark Zuckerberg juga mengakui adanya kekurangan dalam pola penyampaian informasi dari pihak manajemen kepada para pekerja terkait keputusan besar ini.

"Saya juga ingin mengakui bahwa komunikasi kami tidak sejelas apa yang kami inginkan, dan itu adalah salah satu area yang ingin saya pastikan untuk kami perbaiki," tutur Mark Zuckerberg dalam memo tertulisnya.

Pengurangan tenaga kerja ini mencerminkan tren yang lebih luas di Silicon Valley, di mana perusahaan teknologi besar lain seperti Cisco Systems, Microsoft, Amazon, Disney, ASML, dan Oracle juga telah mengumumkan program PHK massal.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author