Menteri Israel Tuai Kecaman usai Unggah Video Penyiksaan Relawan GSF
Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menuai kecaman global setelah mengunggah rekaman video yang memperlihatkan tindakan kekerasan oleh tentara Israel terhadap aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) di media sosial X pada Rabu (20/5).
Aksi penangkapan armada yang membawa ratusan relawan di perairan internasional tersebut memicu ketegangan internal di dalam kabinet pemerintahan Israel. Dilansir dari CNN Indonesia, rekaman yang disebarkan melalui akun pribadi Ben-Gvir memperlihatkan para relawan dipaksa berlutut menunduk dengan tangan terikat ke belakang, sementara sang menteri tampak mengibarkan bendera Israel.
Dalam video tersebut, seorang sukarelawan perempuan langsung dipukul oleh tentara setelah menyuarakan dukungan untuk kemerdekaan Palestina di hadapan Ben-Gvir. Gelombang kritik keras langsung berdatangan dari berbagai pihak, termasuk dari internal pemerintahan Israel sendiri.
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar menyatakan kekecewaannya secara terbuka atas tindakan Ben-Gvir yang dianggap telah merusak reputasi negara. Langkah penanganan kasar tersebut dinilai menghancurkan kerja keras institusi diplomasi dan militer.
"Anda telah menghancurkan upaya luar biasa, profesional, dan sukses yang sudah dilakukan begitu banyak orang, dari tentara IDF hingga staf Kementerian Luar Negeri dan banyak lainnya," kata Sa'ar di X.
Sa'ar kemudian menegaskan bahwa perilaku yang ditunjukkan oleh kolega kabinetnya itu tidak mewakili nilai-nilai yang dianut oleh negara Israel. Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan keretakan dalam respons internal pemerintah.
"Anda bukanlah wajah Israel," dia lalu berujar.
Sikap kontras ditunjukkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang melontarkan kritik tajam terhadap metode Ben-Gvir, sekaligus menegaskan niat pemerintah untuk segera memulangkan seluruh aktivis kemanusiaan yang ditahan.
"Cara Menteri Ben Gvir menangani para aktivis armada tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai dan norma-norma Israel. Saya telah menginstruksikan pihak berwenang terkait untuk mendeportasi para provokator sesegera mungkin," kata Netanyahu.
Meski mengkritik metode kekerasan yang dilakukan menterinya, Netanyahu tetap memberikan pembelaan terhadap kebijakan pemblokiran terhadap kapal-kapal bantuan kemanusiaan tersebut. Ia menegaskan kedaulatan wilayah laut Israel atas konvoi kapal yang dituding terafiliasi dengan kelompok di Gaza.
"Israel memiliki hak penuh untuk mencegah armada provokatif pendukung teroris Hamas memasuki perairan teritorial kami dan mencapai Gaza," ucapnya.
Konvoi kemanusiaan GSF diketahui bertolak dari Turki sejak pekan lalu demi menembus blokade ketat Israel di wilayah Palestina. Sebanyak lebih dari 50 kapal terlibat dalam misi ini, dengan membawa sekitar 430 relawan dari 40 negara berbeda, termasuk sembilan warga negara Indonesia.