Menteri ESDM Tetapkan Aturan Pencampuran Biodiesel B50
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia resmi menetapkan Keputusan Menteri Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 mengenai kewajiban pencampuran Bahan Bakar Nabati jenis biodiesel ke dalam minyak solar sebesar 50 persen atau B50 pada Rabu (17/6/2026), sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz.
Kebijakan pengetatan standar mutu ini didukung oleh pembiayaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan demi menjaga keandalan performa mesin kendaraan serta aspek keselamatan.
Pemerintah mewajibkan seluruh produsen bahan bakar nabati, penyalur, dan badan usaha minyak bumi mematuhi sedikitnya 24 parameter uji ketat sebelum produk tersebut digunakan dalam campuran B50.
Berikut adalah daftar parameter spesifikasi mutu B50 berdasarkan acuan standar internasional:
| No | Parameter Uji | Batasan Nilai |
|---|---|---|
| 1 | Massa jenis (pada suhu 40°C) | Minimal 850 kg/m³ dan maksimal 890 kg/m³ |
| 2 | Viskositas kinematik (pada suhu 40°C) | Minimal 2,3 mm²/s (cSt) dan maksimal 6,0 mm²/s (cSt) |
| 3 | Angka setana | Minimal 51 |
| 4 | Titik nyala (Mangkok Tertutup) | Minimal 130°C |
| 5 | Korosi lempeng tembaga (3 jam pada 50°C) | Maksimal Nomor 1 |
| 6 | Residu karbon (dalam percontoh asli/10% ampas distilasi) | 0,05% hingga 0,30% massa |
| 7 | Temperatur distilasi | 50% volume penguapan wajib dilaporkan; 90% volume penguapan maksimal 360°C |
| 8 | Abu tersulfatkan | Maksimal 0,02% massa |
| 9 | Belerang | Maksimal 10 mg/kg |
| 10 | Fosfor | Maksimal 4 mg/kg |
| 11 | Angka asam | Maksimal 0,40 mg-KOH/g |
| 12 | Gliserol bebas | Maksimal 0,02% massa |
| 13 | Gliserol total | Maksimal 0,24% massa |
| 14 | Kadar ester metil | Minimal 96,5% massa |
| 15 | Angka lodium | Maksimal 115 g-12/100 g |
| 16 | Kestabilan oksidasi | Minimal 900 menit (EN 15751) atau melalui RSSOT minimal 67,5 menit |
| 17 | Monogliserida | Maksimal 0,47% massa |
| 18 | Warna | Skala maksimal nomor 3 |
| 19 | Kadar air | Maksimal 300 ppm |
| 20 | Cold Filter Plugging Point (CFPP) | Maksimal 15°C |
| 21 | Logam I (Na + K) | Maksimal 5 mg/kg |
| 22 | Logam II (Ca + Mg) | Maksimal 5 mg/kg |
| 23 | Total kontaminan | Maksimal 20 mg/liter |
| 24 | Cleanliness | Wajib dilaporkan berdasarkan standar ASTM D7619 |
Sebelum regulasi ini terbit, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menjelaskan bahwa pemberlakuan mandatori ini memerlukan beberapa landasan hukum pendukung.
"Ada kepmen mandatori B50 jalan, plus [kepmen] spesifikasi untuk B50-nya. Terus kepmen alokasi juga," ujar Eniya, Senin (15/6/2026).
Kementerian ESDM memberlakukan standar yang lebih ketat dari hulu, termasuk pada kualitas produk biodiesel murni atau B100 sebelum digabungkan menjadi minyak B50.
"Jadi kan spek dari B100 untuk dicampur ke B50 itu ditetapkan. Iya berubah, kan lebih ketat," kata Eniya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyampaikan bahwa pemerintah menyiapkan masa transisi selama tiga bulan untuk menghabiskan stok bahan bakar model terdahulu.
“Jadi, artinya kan masih ada sisa-sisa B40 itu dihabiskan dahulu, diberi waktu sampai dengan 3 bulan jadi penyesuaiannya hingga menjadi 100% pemulihan ke B50,” kata Laode, Jumat (26/6/2026).
Pemerintah juga memastikan mekanisme perhitungan nilai jual dari jenis bahan bakar dengan bauran baru ini tidak mengalami perubahan signifikan.
“Iya, sama. Kan hitungannya kan diesel, kayak harga solar. Enggak ada jauh dekatnya, enggak ada. Sama dengan harga solar yang sudah ditetapkan tiap bulan,” ungkap Laode.