Mengenali Tanda Orang Berbohong Lewat Gestur dan Suara

Share

Mengetahui tingkat kejujuran seseorang dalam berkomunikasi sering kali menjadi tantangan tersendiri. Namun, sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa sinyal ketidakjujuran dapat terdeteksi melalui bahasa tubuh serta cara berbicara seseorang, seperti dilansir dari BloombergTechnoz.

Kebohongan sendiri tidak selamanya dinilai buruk dalam interaksi sosial. Berdasarkan laporan Psychology Today, sebagian orang kerap menyampaikan kebohongan kecil atau "white lies" demi menjaga perasaan sesama dan mempertahankan keharmonisan sebuah hubungan.

Meski begitu, tindakan tidak jujur yang bersifat fatal dapat merusak fondasi kepercayaan antarpribadi. Oleh karena itu, memahami indikator psikologis saat seseorang menyembunyikan kebenaran menjadi hal yang sangat berguna.

Aspek visual seperti gerak-gerik tangan menjadi indikator utama yang paling sering diamati untuk mendeteksi kebohongan. Tracy Brown, seorang pakar yang pernah mengikuti pelatihan deteksi kebohongan FBI, menyatakan bahwa pembohong cenderung menggerakkan tangan setelah selesai berbicara, bukan sebelum atau saat mengeluarkan pernyataan.

"Pikiran melakukan terlalu banyak hal termasuk mengarang cerita, mencari tahu apakah hal tersebut dipercaya dan menambahkan cerita yang sesuai," kata Brown seperti dikutip dari Time Magazine.

Temuan ilmiah pada 2015 turut memperkuat hal tersebut. Hasil studi itu memperlihatkan bahwa individu yang tengah memanipulasi informasi lebih sering mengoptimalkan penggunaan kedua tangan mereka saat memberikan isyarat ketimbang orang yang berkata jujur.

Selain itu, ketidakjujuran juga kerap memicu gerakan fisik yang tidak terkendali akibat rasa cemas. Seseorang yang berbohong sering memperlihatkan tanda gelisah seperti mengayunkan tubuh ke depan dan belakang, memiringkan kepala, atau berulang kali menggeser posisi kaki.

Profesor psikologi dari UCLA, Edward Geiselman, menemukan adanya kecenderungan perilaku tertentu saat seseorang tidak berkata benar. Salah satu tindakan yang kerap muncul adalah "grooming behavior" atau gerakan refleks seperti memainkan rambut.

Ekspresi Wajah dan Respons Fisiologis

Ekspresi wajah yang berubah secara mendadak juga dapat memberikan petunjuk penting. Pada situasi tertentu, wajah seseorang bisa mendadak berubah menjadi lebih pucat ketika mereka berupaya menutupi fakta atau menyampaikan informasi yang tidak valid.

Gejala fisik tersebut umumnya terjadi akibat respons alami tubuh terhadap tekanan mental dan rasa gugup yang melanda sistem saraf. Selain perubahan warna kulit, bentuk senyuman juga bisa menjadi indikator yang sangat jelas.

Orang yang tidak jujur biasanya memperlihatkan senyuman yang kaku, tegang, serta cenderung merapatkan bibir mereka. Dikutip dari NBC News, senyuman yang tulus secara natural akan melibatkan pergerakan seluruh otot wajah, termasuk timbulnya kerutan halus di sekitar area mata yang sulit dipalsukan.

Rasa tegang saat berbohong pun dapat mengaktifkan sistem saraf otonom secara berlebihan. Dampaknya, produksi keringat akan meningkat drastis terutama pada area T wajah seperti area dahi, dahi bagian atas, dagu, serta wilayah sekitar mulut.

Respons otonom ini juga bisa memicu efek sebaliknya, seperti kondisi mulut atau mata yang mendadak terasa lebih kering. Gejala lain yang menyertai meliputi frekuensi berkedip yang lebih tinggi, kebiasaan menjilat atau menggigit bibir, hingga timbulnya rasa sulit menelan ludah.

Perubahan Nada Suara saat Berbicara

Karakteristik vokal menjadi poin penting berikutnya yang dapat dianalisis. Tekanan psikologis saat menyembunyikan kebenaran membuat otot-otot di sekitar pita suara menegang, sehingga nada bicara seseorang akan terdengar jauh lebih tinggi dari kapasitas normalnya.

Di samping fluktuasi nada, perubahan volume suara yang terjadi secara tiba-tiba dan tanpa alasan yang jelas juga sering diidentifikasi sebagai upaya seseorang dalam memanipulasi fakta.

Kendati demikian, para ahli memberikan catatan penting bahwa munculnya satu tanda di atas tidak bisa langsung dijadikan bukti mutlak sebuah kebohongan. Kondisi emosional lain seperti stres berat, rasa cemas, atau ketidaknyamanan terhadap situasi sekitar juga mampu memicu respons fisik yang serupa.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author