Mengenal Tradisi Haenyeo Penyelam Perempuan Bebas Oksigen di Jeju

Share

Pulau Jeju menyimpan tradisi unik berupa aksi penyelam perempuan yang berburu hasil laut tanpa alat bantu pernapasan. Keterampilan bertahan hidup ini telah diwariskan lintas generasi hingga ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Para penyelam yang dikenal sebagai haenyeo tersebut sanggup menyelam hingga kedalaman 10 sampai 18 meter.

Dikutip dari Detik Travel, mereka mencari abalon, gurita, bulu babi, kerang, serta rumput laut dengan mengandalkan ketahanan napas selama satu hingga dua menit di bawah air. Rutinitas ekstrem ini berlangsung selama beberapa jam dalam berbagai cuaca. Bahkan sebelum pakaian selam modern hadir pada tahun 1970-an, para perempuan tangguh ini bertaruh nyawa di laut dingin hanya dengan berbalut busana katun sederhana.

Ketika muncul ke permukaan air, haenyeo selalu mengeluarkan siulan khas bernama sumbisori. Suara tersebut dihasilkan saat mereka membuang karbondioksida dan menghirup oksigen segar secara cepat.

Selain menjaga ritme napas, siulan sumbisori berfungsi sebagai penanda posisi antarpenyelam di tengah laut. Keunikan tradisi ini mendorong UNESCO menetapkan budaya haenyeo sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada tahun 2016. UNESCO menilai budaya ini tidak sekadar teknik menyelam biasa. Di dalamnya terkandung kearifan lokal dalam menjaga ekosistem laut secara berkelanjutan serta semangat solidaritas komunitas yang kuat.

Sejarah Perekonomian dan Ancaman Kepunahan

Eksistensi haenyeo memiliki akar sejarah yang erat dengan kondisi ekonomi abad ke-17 dan ke-18. Saat itu, pemerintah mengenakan pajak tinggi kepada nelayan laki-laki, sementara hasil tangkapan perempuan bebas dari beban pajak tersebut. Perubahan aturan itu mendorong para perempuan mengambil alih peran sebagai pencari nafkah utama. Imbasnya, struktur sosial masyarakat Jeju berkembang menjadi lebih matrifokal dibandingkan kawasan Korea lainnya.

Kini, tradisi legendaris ini berada di ambang kepunahan akibat minimnya regenerasi. Mayoritas haenyeo yang masih aktif telah berusia di atas 70 tahun, bahkan beberapa di antaranya tetap menyelam meski sudah berumur 80 hingga 90 tahun. Minat generasi muda yang makin menyurut serta perubahan iklim global turut mengancam kelestarian ekosistem bawah laut Jeju. Kenaikan suhu air laut terus mengurangi jumlah hasil tangkapan, yang berdampak langsung pada kelangsungan profesi bersejarah ini.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author