Mengenal Sindrom Bayi yang Terlupakan yang Picu Kematian Anak di Mobil
Kasus kematian anak akibat serangan panas di dalam mobil kembali menjadi perhatian publik setelah peristiwa tragis menimpa seorang anak berusia 20 bulan. Fenomena ini sering kali dikaitkan dengan kondisi psikologis tertentu.
Dikutip dari Detikcom, dokter spesialis kedokteran anak dan remaja, Nibras Naami, menjelaskan kemungkinan penyebabnya adalah "Forgotten Baby Syndrome" (Sindrom Bayi yang Terlupakan). Ini merupakan bentuk kelalaian yang terjadi tanpa unsur kesengajaan.
Kondisi tersebut bisa menimpa orang tua yang berfungsi dengan baik secara kognitif, penuh perhatian, dan sangat mencintai anak-anak mereka. Mobil sendiri dapat berubah menjadi jebakan maut dalam waktu singkat saat terpapar matahari.
Pada suhu luar 30 derajat dan paparan sinar matahari langsung, suhu di dalam mobil bisa mencapai 40 derajat hanya dalam sepuluh menit. Setelah satu jam, temperatur di dalam ruang kendaraan bahkan dapat melonjak hingga lebih dari 50 derajat Celsius.
"Hal ini berbahaya bagi siapa saja," kata Nibras Naami.
"Seorang balita yang terikat di kursi anak tidak bisa melepaskan diri dari situasi tersebut," jelasnya.
Psikolog David Diamond telah bertahun-tahun meneliti bagaimana orang tua bisa melupakan anak mereka di mobil. Salah satu contoh kasus ilmiah yang ia teliti adalah kematian bayi bernama Bryce di Amerika Serikat pada 2007 lalu, yang ditinggalkan ibunya, Lyn Balfour, saat bekerja.
Dalam persidangan terungkap bahwa Balfour kurang tidur dan harus menangani krisis keluarga. Rutinitasnya hari itu berbeda, dan tas popok yang biasa menjadi pengingat visual tidak diletakkan di tempat yang mudah terlihat seperti kursi penumpang.
Menurut Diamond, faktor-faktor tersebut mengganggu memori prospektif atau memori niatan yang berfungsi menyimpan rencana tindakan di masa depan. Ada enam faktor yang memicu gangguan ini, yaitu kurang tidur, stres kronis atau akut, distraksi, multitasking, kurangnya alat bantu ingatan, dan rutinitas otomatis.
Psikolog di Berlin, Rya-Daniela Kocalevent, menambahkan bahwa faktor-faktor tersebut memicu ketegangan batin yang tinggi. Akibatnya, manusia cenderung bertindak mengandalkan sistem "autopilot" dan melupakan tindakan yang sudah direncanakan.
Untuk menilai aspek kesengajaan, para psikolog akan mengamati perilaku masa lalu, riwayat pembelajaran, dan latar belakang orang tua. Hal ini menjadi indikator untuk menyimpulkan apakah kesalahan fatal tersebut dipicu oleh faktor stres eksternal atau penyimpangan rutinitas.
"Kita tidak pernah bisa memastikan 100% apa yang ada di pikiran seseorang," kata Kocalevent.
Dalam kasus Lyn Balfour, pengadilan tidak menemukan bukti bahwa ia bermaksud menyakiti putranya. Otak Balfour menyimpan ingatan keliru yang menganggap bayinya sudah berada di tempat penitipan anak yang aman.
Sebagai langkah antisipasi, beberapa negara menerapkan regulasi khusus. Italia sejak 2019 mewajibkan penggunaan kursi anak dengan sistem alarm terintegrasi untuk anak hingga usia empat tahun yang terhubung ke ponsel orang tua.
Di Jerman, sistem alarm serupa juga banyak dipilih oleh orang tua secara mandiri. Langkah pencegahan lain yang bisa dilakukan adalah menaruh ponsel atau tas kerja di kursi belakang, atau meletakkan mainan bayi di kursi penumpang depan sebagai pengingat visual.
"Seorang ibu menulis bahwa ia pernah meninggalkan bayinya yang baru berusia dua minggu di dalam mobil, setelah mengantar anak yang lebih besar ke taman kanak-kanak dan kembali ke rumah," kata Naami.
Ibu tersebut segera menyadari kesalahannya saat cuaca sedang tidak panas, sehingga bayinya dalam keadaan baik. Meski begitu, metode pengingat visual tidak memberikan perlindungan seratus persen.
Hingga kini belum ada angka resmi mengenai frekuensi kasus orang tua yang melupakan anak di mobil. Kendati demikian, dampak psikologis bagi orang tua yang mengalami kelalaian tragis ini dipastikan sangat mendalam.
"Kita tidak boleh lupa: orang tua yang melupakan anaknya dalam mobil, jika memang itu adalah kelalaian yang tragis, akan menghadapi hukuman seumur hidup," kata Kocalevent.