Mengenal Sinaworai Kuliner Tradisional Minahasa Tenggara Pengganti Bekal

Share

Para penjelajah alam atau pelaku trekking yang kehabisan bekal di dalam hutan dapat memanfaatkan kuliner khas Minahasa Tenggara sebagai solusi. Hidangan tradisional bernama sinaworai ini menjadi pilihan praktis karena memanfaatkan bahan alami sekitar. Dilansir dari Detik Travel, sinaworai terbuat dari beras yang dikombinasikan dengan daun pandan, janur kelapa, daun nasi, daun woka, dan daun seho atau aren.

Lapisan daun tersebut dimasukkan ke dalam ruas bambu untuk memberikan aroma harum yang khas pada nasi. Secara tampilan, sinaworai sekilas menyerupai nasi jaha karena sama-sama memanfaatkan media ruas bambu dalam proses memasaknya. Perbedaan mendasar terletak pada bahan baku, di mana nasi jaha memakai beras ketan, santan, bawang merah, serta jahe, sedangkan sinaworai tidak menggunakannya.

Metode pembakaran kedua hidangan ini juga berbeda. Bambu berisi nasi jaha harus diputar secara berkala di atas api agar matang merata, sementara sinaworai dibakar langsung di dekat bara api tanpa perlu sering diputar.

Sinaworai murni hanya menggunakan bahan beras dengan tambahan air penuh di dalam bambu. Proses pembakaran menggunakan kayu bakar dan gonofu atau sabut kelapa ini membutuhkan waktu sekitar satu jam hingga aromanya keluar. Masyarakat Desa Wawali Pasan, Kecamatan Ratahan, biasanya memasak kuliner ini ketika sedang beraktivitas di area perkebunan. Bahan-bahan pendukung sangat mudah diperoleh di alam, sehingga warga hanya perlu membawa beras dan garam dari rumah.

Hidangan ini paling nikmat disantap dalam kondisi hangat bersama sayur pakis dan sambal dabu-dabu iris. Sayur pakis beserta rempah daun pendukungnya juga diolah secara tradisional di dalam ruas bambu.

Manfaat Memasak dengan Media Bambu

Bungkus daun kelapa muda pada nasi menghasilkan sari pati dan getah yang meresap selama proses pemanasan. Hal ini menciptakan rasa gurih alami yang unik sekaligus membuat tekstur nasi menjadi lebih pulen.

Penggunaan bambu dalam tradisi ini berfungsi menjaga kelembaban dan menyebarkan panas secara perlahan ke seluruh bagian makanan. Hasilnya, tingkat kematangan menjadi lebih rata, makanan tetap juicy, dan memunculkan rona kehijauan tipis yang membuat hidangan lebih awet alami.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author